Pengin Makan Krasikan dan Wajik, Yuk Ke Kelurahan Joho Sukoharjo

Seorang pengrajin jenang mengaduk adonan di rumahnya di Kelurahan Joho, Kecamatan Sukoharjo, Sabtu (26/1 - 2019). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
28 Januari 2019 07:55 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Beraneka ragam jenang yang diproduksi industri rumah tangga menjadi salah satu oleh-oleh khas Sukoharjo. Penganan tradisional itu kerap diburu para pelancong atau wisatawan yang singgah menghabiskan waktu di Solo dan sekitarnya. Mereka rela menempuh perjalanan belasan kilometer hanya untuk membeli jenang.

Salah satu sentra pembuatan jenang di Kelurahan Joho, Kecamatan Sukoharjo. Beberapa home industry tetap eksis memproduksi beraneka ragam jenang seperti krasikan, wingko babat, dan wajik. Makanan tradisional ini masih bertahan di tengah gempuran makanan kaleng dan atau kotak yang dibuat secara modern.

Adalah Sukardi. Pria paruh baya ini sehari-hari bekerja membuat jenang di bagian belakang rumahnya. “Rata-rata [produksi jenang] sekitar 20 potong per hari. Ada krasikan, wajik, dan wingko babat. Namun, jenang yang paling laris dan diburu masyarakat adalah wingko babat dan krasikan,” kata dia, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (26/1/2019).

Dibantu tiga karyawan, Sukardi membuat beraneka ragam jenis dan melayani penjualan di rumahnya. Kadang kala, ia menerima pesanan puluhan potong jenang saat ada masyarakat yang menggelar hajatan pernikahan di wilayah perdesaan.

Harga wingko babat dan jenang prol senilai Rp70.000/potong. Sementara harga jenang krasikan senilai Rp65.000/potong. “Rasanya manis serta teksturnya lembut dan kenyal. Ini yang menjadi citarasa jenang sebagai penganan tradisional khas Sukoharjo,” ujar dia.

Industri jenang di Kabupaten Jamu berdiri sejak puluhan tahun lalu. Kala itu, jumlah pengrajin jenang mencapai ratusan orang. Mereka memproduksi jenang di rumah setiap hari. Lambat laun, jumlah pengrajin jenang berkurang lantaran tak sedikit yang gulung tikar karena sepinya order.

Selain di Kelurahan Joho, beberapa pengrajin jenang lainnya berdomisili di Kelurahan Kenep, Kecamatan Sukoharjo. “Saat musim penghujan, produksi jenang dikurangi lantaran jumlah pembeli turun. Misalnya, 20 potong dikurangi menjadi 15 potong,” ujar dia.

Pernyataan senada diungkapkan pembuat jenang lainnya, Marno. Jenang menjadi penganan paling laris diburu para pemudik yang pulang kampung saat libur Lebaran. Mereka memborong berbagai jenis jenang untuk oleh-oleh kerabat keluarga, tetangga rumah dan teman kantor. Kala itu, ia harus menambah produksi jenang hingga 60 potong per hari.

Marno berharap jenang yang menjadi potensi unggulan lebih diperhatikan pemerintah. Industri jenang harus dijaga agar tetap bertahan di era digital. “|Kami tak ingin para pengrajin jenang gulung tikar lantaran gerusan makanan kaleng. Ini penganan tradisional yang harus dilestarikan,” kata dia.