Ganti Rugi Lahan Kena Proyek Jalan Lingkar Sukoharjo Naik Setelah Diukur Ulang

Ruas jalan Dusun Krangkeng, Desa/Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, terdampak proyek peningkatan jalan Sugihan-Paluhombo, Senin (28/1/2019). (Solopos - Indah Septiyaning W.)
28 Januari 2019 18:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Warga Krangkeng, Desa/Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, terdampak proyek peningkatan ruas jalan Sugihan-Paluhombo (jalur lingkar tengah) mendapat nilai ganti rugi lebih besar dari yang semula ditawarkan Pemkab setelah lahan dan bangunan mereka diukur ulang.

Sebelumnya, gugatan mereka ke Pengadilan Negeri (PN) Sukoharjo terkait ganti rugi pembebasan lahan ditolak. Kini warga sudah pasrah menerima ganti rugi yang ditawarkan pemerintah. Tak ada rencana untuk mengajukan gugatan lanjutan.

Warga RT 003 RW 003 Krangkeng, Desa Bendosari, Yatningsih, mengatakan meski belum menyepakati nilai ganti rugi, dia mulai pasrah dan tidak berencana mengajukan gugatan lanjutan.

"Sebesar 60 persen saya sekarang sudah pasrah. Kalau memang gugatan kami di Pengadilan Negeri ditolak, saya belum berencana mengajukan gugatan lanjutan," katanya saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (28/1/2019).

Dia hanya berharap Pemkab mengukur ulang lahan dan bangunan miliknya yang bakal terdampak proyek peningkatan jalan Sugihan-Paluhombo. Dengan pengukuran ulang ini, dia berharap nilai lahan dan bangunan yang diterima bisa berubah.

"Beberapa warga ada yang sudah diukur ulang dan nilai ganti ruginya naik. Makanya saya minta lahan saya bisa diukur ulang," katanya.

Warga Krangkeng lainnya, Painem, mengatakan hal senada. Tak ada rencana mengajukan gugatan lanjutan. Dia bersedia menerima tawaran ganti rugi lahan dan bangunan miliknya dari Pemkab senilai Rp120 juta.

"Lahan yang kena seluas 100 meter persegi dan sudah ditawari ganti rugi Rp120 juta. Kami sudah sepakat tidak mengajukan gugatan lagi," kata dia.

Warga RT 002/RW 002 Dukuh Juron, Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, Suparno, menerima ganti rugi yang ditawarkan Pemkab. Semula dia menolak ganti rugi dan meminta Pemkab mengukur ulang.

Setelah diukur ulang lahan dan bangunannya yang terdampak proyek peningkatan jalan Sugihan-Paluhombo ada perubahan. "Awalnya bangunan hanya dihargai Rp43 juta. Setelah diukur ulang menjadi Rp85 juta," katanya.

Dia mengatakan dana ganti rugi lahan dan bangunan sudah dia terima via rekening bank. Pada intinya, dia mengatakan warga mendukung langkah Pemkab membangun jalan lingkar tengah.

Warga hanya bermasalah terkait nilai ganti rugi lahan dan bangunan yang ditawarkan Pemkab. Menurut warga nilai tawarkan Pemkab terlalu rendah dibandingkan dengan harga pasaran.

Pemkab mematok tawaran dari Rp150.000 hingga Rp250.000 per meter persegi. Padahal nilai pasaran mencapai Rp400.000 per meter persegi.

Sebagaimana diketahui, Pemkab Sukoharjo menyusun konsep perencanaan pembangunan peningkatan ruas jalan Sugihan-Paluhombo dimulai sejak 2017 lalu. Persiapan pembangunan khususnya pengadaan tanah dimulai Februari sampai Juni 2018.

Sedangkan pembangunan seharusnya dikerjakan Juli sampai November 2018. Namun hingga kini proyek tersebut belum berjalan lantaran terganjal proses pembebasan lahan.