Asale Jomboran Klaten Dulu Tempat Transit Andong

Kereta kelinci melintas di depan Kantor Desa Jomboran, Klaten Tengah, Jumat (25/1/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
28 Januari 2019 22:40 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Hamparan sawah menjadi pemandangan yang menghiasi sepanjang jalan antarkampung di Desa Jomboran, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten.

Suasana desa di tengah kota yang asri tersebut diyakini tak jauh berbeda jika dibandingkan puluhan tahun silam. Diyakini pada masa penjajahan Belanda, tanaman keras banyak tumbuh di kawasan Jomboran.

Banyaknya pepohonan yang tumbuh membuat para kusir andong betah singgah atau transit di Jomboran. Sembari beristirahat, para kusir memanfaatkan waktu dengan memberi makan dan minum kuda penarik bendi atau andong.

Dalam bahasa Jawa, aktivitas memberi makan dan minum kuda itu sering disebut nyombor. Istilah itulah yang diyakini menjadi cikal bakal nama Jomboran.

“Sejarah itu sudah ada secara turun temurun,” kata Kepala Desa Jomboran, Agung Widodo, saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (25/1/2019).

Agung menjelaskan Desa Jomboran saat ini merupakan penggabungan dari dua desa. Desa Tawangsari meliputi Dukuh Krajan, Dukuh Ngukiran, dan Dukuh Kalikuning.

Sementara Desa Jomboran meliputi Dukuh Jomboran, Dukuh Bugelan, dan Dukuh Tempuran. Sayangnya, sejarah penggabungan dua desa tersebut tak terdokumentasikan.

“Saya sendiri pernah mendengar cerita penggabungan dua desa ini dari sesepuh desa Ki Harsono. Tetapi tahunnya berapa itu tidak diketahui karena tidak ada dokumennya. Namun, bangunan kantor desa untuk lurah pertama setelah penggabungan itu saat ini masih dipertahankan dan berada di Dukuh Jomboran,” kata Agung.

Saat ini, Jomboran meliputi Bugelan, Tawangsari, Karangasem, Kalikuning, serta Jomboran. Dari tahun ke tahun, kondisi desa itu tak banyak berubah.

“Suasana desa tidak banyak berubah. Sejak dulu kondisinya berupa hamparan sawah dan pepohonan. Hanya, infrastrukturnya lebih tertata. Dulu rumah penduduk itu masih jarang sekarang lebih padat,” jelas dia.

Hamparan sawah yang menghijau yang masih dipertahakan mulai dimanfaatkan sebagai salah satu potensi desa. Salah satu pemanfaatan yakni mendukung pengembangan salah satu unit usaha BUM Desa Bodronoyo, Desa Jomboran berupa kafe berkonsep taman di tepi sawah.