Ribuan Warganet Teken Petisi Minta Grup ICS Diaktifkan Kembali

Grup ICS, info cegatan solo (ics). (Istimewa)
29 Januari 2019 19:40 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Ribuan warganet membuat petisi di situs Change.org sejak Sabtu (26/1/2019). Mereka meminta Facebook mengembalikan dan mengaktifkan grup INFO CEGATAN SOLO DAN SEKITARNYA.

Grup INFO CEGATAN SOLO DAN SEKITARNYA dinonaktifkan oleh Facebook lantaran dianggap melanggar standar komunitas, Jumat (25/1/2019). Saudaranya, grup info cegatan solo (ics), sudah dinonaktifkan terlebih dahulu setelah diretas dan dilaporkan beramai-ramai.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, hingga Selasa (29/1/2019) siang, petisi berjudul "Facebook: Kembalikan Dan Aktifkan Kembali Group INFO CEGATAN SOLO DAN SEKITARNYA" itu telah ditandatangani 1.486 orang.

Sejumlah komentar yang mengiringi tanda tangan itu di antaranya dari Wawan Darmawan, yang menyebut grup Facebook INFO CEGATAN SOLO DAN SEKITARNYA mengajari arti kemanusiaan dan saling menolong tanpa perlu kenal.

Komentar senada ditulis Rya Maria Wardani yang menyebut grup ICS sangat membantu mengetahui informasi di Solo dan sekitarnya. Sebelum dinonaktifkan pada Jumat, grup tersebut memiliki anggota lebih dari 700.000 akun.

Salah seorang pengurus pusat ICS, Teguh Wahyudi, mengatakan awalnya akun pengurus grup Facebook info cegatan solo (ics) diretas. Lalu si peretas merekrut tiga akun palsu yang enggak dikenal sebagai pengurus dan moderator.

"Sesudah itu akun admin grup yang diretas ini dicopot dari kepengurusan lalu diblokir,” kata dia kepada Solopos.com, Selasa (29/1/2019).

Grup itu kemudian diubah namanya menjadi Solo Seneng Tetulung. Pengurus yang asli berupaya mengambil alih grup namun gagal. Anggota kemudian beramai-ramai melaporkan grup itu ke Facebook yang berbuntut penonaktifan.

“Grup yang satu masih hidup, tapi selang beberapa hari juga disabled karena dianggap melanggar standar komunitas setelah salah satu pengurus menerima ribuan anggota dalam jangka waktu singkat. Pertama 3.500 akun, kedua 4.000 akun, dan ketiga 9.000 akun diterima. Kemungkinan lalu lintas yang mendadak, tanpa filter, dan cepat ini membuat Facebook curiga sehingga menganggapnya sebagai spam atau pelanggaran,” papar Teguh.

Setelah kedua grup dinonaktifkan, pengurus dan sejumlah anggota lain berupaya mengajukan banding namun proses itu bisa berlangsung selama beberapa hari. Ia berharap Facebook mau memulihkan grup itu mengingat manfaatnya.

“Grup ini menjadi sarana saling tukar informasi, bergotong royong, dan membantu mereka yang membutuhkan. Sayang sekali kalau kami harus membuat grup baru, karena ICS sudah ada sejak 2014. Petisi yang ada untuk melengkapi pengembalian grup,” ujarnya.