Warga Desak Polisi Tutup Kasus Pembuangan Bayi Slogohimo Wonogiri

Warga bersama polisi mengecek lokasi temuan bayi di tepi saluran irigasi di Slogohimo, Wonogiri, Minggu (30/12/2018). (Istimewa - Humas Polres Wonogiri)
29 Januari 2019 20:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Pemerintah Desa Waru, Slogohimo, Wonogiri, dan warga meminta aparat Satreskrim Polres Wonogiri menyelesaikan perkara pembuangan bayi oleh Novi Kusuma Ningrum, 21, tanpa melalui proses hukum.

Permintaan itu disampaikan warga karena pertimbangan kemanusiaan. Novi sedang dalam masalah kesehatan mental ketika membuang bayinya. Di sisi lain, polisi belum memutuskan kelanjutan penanganan kasus tersebut.

Novi, warga Dusun Butuh RT 001/RW 001, Waru, membuang bayi yang baru dilahirkannya secara normal di dekat saluran irigasi tak jauh dari rumahnya, Minggu (30/12/2018) lalu. Beruntung bayi laki-laki itu masih hidup saat ditemukan warga.

Saat ini bayi itu sudah dirawat ibunya. Bayi itu keluar dari rumah sakit setelah berat badannya mencapai 2 kg. Sebelumnya bayi tersebut dirawat intensif karena lahir prematur.

Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP Aditia Mulya Ramdhani, kepada Solopos.com, Selasa (29/1/2019), mengatakan penanganan kasus ini masih tahap penyelidikan, belum ke penyidikan. Polisi sangat berhati-hati dalam menangani kasus tersebut.

Polisi tak hanya memperhatikan tindak pidana atas pembuangan bayi itu, tetapi juga mempertimbangkan rasa kemanusiaan. Sesuai fakta, tindakan Novi merupakan pidana. Tindakannya sangat fatal jika bayi yang ditelantarkannya meninggal dunia.

Namun, hingga sekarang bayi tersebut hidup dan butuh perawatan ibunya agar kebutuhan nutrisinya terpenuhi. Di sisi lain, pemerintah desa dan warga menyampaikan aspirasi secara resmi kepada polisi.

Mereka meminta polisi tidak memproses hukum Novi atas pertimbangan rasa kemanusiaan. Menurut mereka apabila Novi menjalani proses hukum dan akhirnya dipenjara, tidak ada yang bisa menjamin keberlangsungan hidup si bayi dan kakak si bayi yang masih berusia satu tahun.

Terlebih, Novi berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan. “Proses hukum lanjut atau tidak, akan kami tentukan dalam gelar perkara. Kami menghargai aspirasi warga. Masukan dari warga akan menjadi pertimbangan,” kata Aditia mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP Uri Nartanti Istiwidayati.

Dia melanjutkan proses hukum pada dasarnya harus memberi manfaat, bukan sebaliknya. Apabila justru lebih banyak mudaratnya, dapat dikatakan penegakan hukum tak berhasil.

Pada kasus pembuangan bayi ini, polisi memperhatikan asas kemanfaatan tersebut. Terpisah, Camat Slogohimo, Khamid Wijaya, mengonfirmasi pemerintah desa, warga, dan keluarga Novi memberi masukan kepada polisi agar tidak melanjutkan proses hukum.

Novi sudah mengakui kesalahannya dan berjanji merawat bayinya dengan baik. Selain itu saat ini Novi juga masih harus merawat anak pertamanya yang berusia satu tahun.

“Suaminya sering bekerja di luar daerah. Pas suaminya tak ada di rumah, Novi hanya hidup dengan ibunya. Kalau nanti dia menjalani hukuman bagaimana nasib kedua anaknya?” ucap Khamid.