Pelajar di Indonesia Rentan Terpapar Radikalisme, Begini Langkah Penanganannya

Ilustrasi kampanye setop perundungan. (wblk.com)
30 Januari 2019 05:00 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Pada akhir 2017 lalu, Mata Air Foundation dan Alvara Research Center merilis hasil survei yang mengungkap temuan satu dari empat peserta didik di Indonesia terpapar radikalisme. Survei tersebut melibatkan 4.200 siswa dan mahasiswa di Jawa dan sejumlah kota besar di luar Jawa. Survei ini adalah bagian dari rangkaian survei pandangan agama di masyarakat, yang sebelumnya juga mendata para profesional.

Ketua Komunitas Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, mengatakan ada empat tahapan seorang pelajar bisa dikatakan radikal. Pertama, observer (pengamat), kedua supporter (pendukung), kemudian yang ketiga messenger (penyampai pesan), dan keempat activist (aktivis). Seluruh tahapan itu bisa dicegah apabila tidak ada waktu dan ruang bagi pelajar untuk melakoni tahapan pertama yakni mengamati.

“Sosial media menjadi ruang yang sangat luas untuk menyebarkan radikalisme. Kalau sudah mengamati, mereka bisa jadi pendukung karena menyukai radikalisme. Lalu saat ego-nya diperbesar, ia bisa beranjak menjadi messenger, meneruskan pesan radikalisme ke orang lain yang ujungnya menjadi radikalis (aktivis radikalisme),” kata dia saat ditemui wartawan di Bale Tawangarum, Kompleks Balai Kota Solo, Selasa (29/1/2019).

Solo Bersimfoni, sambung Farid, melakukan fungsi sebagai preventing violent extremism (PVE), yang berupaya mencegah para pelajar terpapar paham radikalisme. Mereka yang rentan, jamaknya adalah korban bullying atau perisakan, pelaku phubbing (sibuk dengan gawai hingga mengabaikan orang sekitar) dan korban persekusi.

“Kami mencegah paparan intoleransi dan radikalisme lewat hasta perilaku, perilaku kesalehan sosial khususnya toleransi dan perilaku anti kekerasan. Perilaku ini erat dengan nilai kehidupan yang harmonis, pendekatan budaya adiluhung Jawa Solo, yang sejak dulu ada,” ucapnya. Farid mengatakan untuk melawan paham radikalisme yang merebak, Solo Bersimfoni mengajak sejumlah sekolah di Kota Bengawan untuk membuat film pendek bertema hasta perilaku. Video itu akan disebar ke media sosial agar pelajar bisa menerima pesannya.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah wilayah VII, Edy Pudyanto, berharap delapan hasta perilaku terpilih yakni tepa slira (tenggang rasa), lembah manah (rendah hati), andhap ashor (berbudi luhur), grapyak semanak (ramah tamah), gotong royong, guyub rukun (kerukunan), ewuh pekewuh (saling menghormati), dan pangerten (saling menghargai) dapat disisipkan pada muatan lokal di Kota Bengawan. “Pendekatan khusus yang sangat baik untuk mereduksi perilaku negatif yang menjadi benih-benih sikap intoleran, radikal dan teror,” kata dia, saat memberikan sambutan dalam Diseminasi Film Kesalehan Sosial SMA/SMK, Selasa.