12 Kantin Sekolah di Solo Disurvei, Semua Dinyatakan Tak Sehat

Ilustrasi kantin sekolah. (Dok)
30 Januari 2019 13:40 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Yayasan Kepedulian untuk Anak (Kakak) Solo menggelar survei tentang kantin sekolah di 6 SD dan 6 SMP di Solo pada 2017 lalu. Hasilnya 12 kantin sekolah dinyatakan tidak sehat.

Hasil survei dipaparkan dalam acara seminar tentang kantin sehat di sebuah hotel di Solo, Jumat (25/1/2019) lalu. Penyebab kantin dinilai tak sehat lantaran tak mencantumkan informasi tentang makanan sehat dan tidak ada kontrol pada pangan jajan anak sekolah (PJAS).

Direktur Kakak Solo Shoim Sahriyati mengatakan tujuan riset adalah menemukan komponen kantin, makanan, supplier makanan, dan bangunan kantin. Kebijakan di tingkat sekolah dan praktiknya juga diteliti agar bisa direplikasikan di sekolah lain.

“Saya merekomendasikan siswa mendapat pemahaman tentang kantin sehat. Pemahaman bisa secara langsung atau melalui media yang menarik di kantin sekolah. Sekolah mengembangkan mekanisme peningkatan kapastitas bagi seluruh tim yang terlibat di kantin,” ujar dia melalui sambungan telepon, Senin (28/1/2019).

Kantin sekolah seharusnya menyediakan PJAS berupa makanan utama, camilan, minuman, dan buah. Kapasitas penjaga kantin perlu ditingkatkan demi menjamin keamanan dan kesehatan siswa.

Apabila PJAS bergantung pada supplier, jaminan keamanan dan kesehatan sepenuhnya di supplier. Berbeda dengan PJAS yang diolah sendiri sehingga sekolah bisa memantau.

”Sebesar 33% kantin sekolah di tingkat SD dan SMP sudah melakukan kontrol terhadap supplier. Tapi, itu sebatas menanyakan apakah makanan tersebut sehat atau tidak. Sisanya penjaga kantin masih takut untuk menolak supplier. Tidak jarang yang menitipkan PJAS di kantin adalah guru atau pejabat sekolah lain,” ujar dia.

Kontrol PJAS penting untuk menghindari kasus keracunan siswa. Versi sekolah, mereka tidak pernah menemukan kasus keracunan pada siswa. Namun versi siswa, mereka mengaku pernah mengalami indikasi keracunan seusai mengonsumsi PJAS.

”Biasanya yang mereka lakukan adalah masuk Unit Kesehatan Sekolah [UKS] atau bahkan izin pulang lebih cepat untuk istirahat. Indikasi ini tidak diketahui sekolah,” ujar dia.

Informasi makanan sehat berupa poster yang ditempel di kantin berpengaruh besar pada pemahaman siswa. ”Ada kantin sekolah yang tidak ada informasi makanan sehatnya. Namun, siswa menganggap ada karena informasi itu dia dapat dari iklan makanan sehat,” ujar dia.

Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo, Sayekti, mengatakan untuk mewujudkan kantin sehat perlu kepedulian, kebijakan, maupun dana. Harus ada kerja sama yang harmonis antara sekolah, orang tua murid (komite), lingkungan masyarakat, maupun pemerintah daerah. “Program kantin sehat bukan program instan. Perlu proses pembiasaan dan pembudayaan,” ujarnya.

Pendirian kantin sehat mampu meningkatkan proses pembelajaran sebagai indikasi sekolah sehat. “Sekolah memiliki ketahanan pangan dan kesehatan, menciptakan kondisi sekolah yang baik, tempat pembelajaran, penyadaran dan upaya menjaga kesehatan lewat penyediaan pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman [B2SA],” kata dia. Muaranya adalah mengenalkan konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman.