Begini Pesona Umbul Pelem dengan Taman Cenil di Desa Wunut Klaten

Pengunjung berenang di salah satu kolam renang kawasan objek wisata Umbul Pelem, Desa Wunut, Kecamatan Tulung, Klaten, belum lama ini. (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
30 Januari 2019 06:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Desa Wunut, Kecamatan Tulung, Klaten,  berada di perbatasan dengan Kabupaten Boyolali. Desa itu berada di wilayah utara Klaten yang disebut-sebut menjadi surga mata air.

Ada dua sumber mata air di Wunut masing-masing bernama Umbul Gede dan Umbul Pelem. Memanfaatkan gelontoran dana desa, kawasan Umbul Pelem mulai digarap menjadi objek wisata.

Proses membangun objek wisata di kawasan Umbul Pelem dilakukan sejak 2016 lalu. Pada tahun pertama, pembangunan mendapatkan gelontoran dana Rp300 juta. Proses pembangunan berlanjut pada 2017 gelontoran dana Rp500 juta dan 2018 senilai Rp500 juta.
“Sebelum ada dana desa itu kami tidak bisa apa-apa. Pendapatan asli desa paling banter itu Rp25 juta dari sewa lahan kas desa,” kata Kepala Desa Wunut, Iwan Sulistya Setiawan, saat berbincang dengan Solopos.com, belum lama ini.

Sejak Mei 2018, objek wisata tersebut mulai dibuka untuk umum. Objek wisata baru tersebut memiliki tiga kolam renang dengan beragam ketinggian. Air kolam tersebut memanfaatkan aliran dari Umbul Pelem yang kini sudah dipagari dan tak lagi digunakan untuk berenang. “Tujuan kami pagari umbul utamanya itu agar air yang mengalir untuk kolam renang tetap bersih dan alami,” kata Iwan.

Tak hanya menawarkan kolam renang, kawasan Umbul Pelem juga menawarkan pemandangan hamparan tanaman cenil atau selada air yang hijau di samping kolam. Gazebo-gazebo berdiri di antara tanaman cenil sebagai tempat untuk berteduh. Pengunjung bisa bermain di ruang antara tanaman cenil untuk aliran air. Retribusi masuk ke objek wisata itu Rp5.000/orang. Sementara, tarif parkir sepeda motor Rp3.000/unit dan mobil Rp5.000/unit.

Total luas lahan kawasan Umbul Pelem sekitar 8.500 meter persegi. Objek wisata itu berbatasan langsung dengan objek wisata Umbul Manten di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo. “Tidak ada persaingan. Masing-masing objek wisata itu memiliki ciri khas masing-masing,” ungkap dia.

Iwan menjelaskan pengembangan objek wisata tersebut terus berlanjut. Rencananya, kawasan Umbul Pelem dilengkapi flying fox, taman pasir, serta rafting buatan mengelilingi kebun cenil. “Inginnya bisa dilanjutkan pada 2019. Namun, itu semua tergantung dari masyarakat soal prioritas penggunaan anggaran dana desa tahun depan,” urai dia.

Umbul Pelem kini dikelola Badan Usaha Milik (BUM) Desa Sumber Kamulyan. Jumlah pendapatan yang diperoleh sejak beroperasi pada Mei hingga akhir November 2018 sekitar Rp457 juta. “Saat ini jumlah karyawan ada lima orang. rencananya akan tambah lagi setelah spot-spot bertambah. Harapannya dengan objek wisata ini bisa mendongkrak pendapatan asli desa serta menyejahterakan warga,” ungkapnya.