Guguran Lava Pijar Merapi Kian Panjang, Warga Diminta Tetap Tenang

Petugas memantau perkembangan aktivitas Merapi dari Pusdalops BPBD Klaten, Rabu (30/1/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
30 Januari 2019 19:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Guguran lava pijar Gunung Merapi yang terjadi pada Selasa (29/1/2019) malam membuat sejumlah wilayah di Klaten dan Boyolali diguyur hujan abu.

Namun demikian, intensitas hujan abu itu kecil serta tak memengaruhi aktivitas warga. Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Sri Yuwana Haris Yulianta, mengatakan dari informasi yang diterima BPBD, guyuran hujan abu tipis terjadi di wilayah Dukuh Gedong Ijo, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang.

Guyuran hujan abu itu terjadi sekitar pukul 21.15 WIB. “Pada Rabu [30/1/2019] pukul 01.00 WIB itu dilaporkan sudah tidak ada hujan abu. Turunnya hujan abu sesekali dalam tiga jam dan itu tipis,” jelas Haris saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu.

Hujan abu tersebut tak memengaruhi aktivitas warga. Begitu pula kegiatan warga melakukan pantauan Merapi dengan ronda. “Seperti yang sudah berjalan berbulan-bulan terakhir warga senantiasa ronda,” jelas dia.

Ia menjelaskan BPBD masih menetapkan aktivitas Merapi berada pada status Waspada sejak 21 Mei 2018. Meski luncuran guguran lava pijar kian panjang, guguran tersebut masih berada pada daerah aman dan tak berdampak banyak pada warga yang tinggal paling dekat dengan Puncak Merapi.

“Luncuran terpanjang pada guguran lava pijar terjadi Selasa malam mencapai 1.400 meter. Itu masih berada pada radius aman. Seperti diketahui radius yang harus steril dari aktivitas penduduk yakni 3 km dari puncak Merapi,” kata Haris.

Warga terutama di wilayah kawasan rawan bencana (KRB) III diminta tetap tenang dan waspada menjalankan aktivitas saban hari. Rekomendasi radius steril dari aktivitas penduduk juga diminta tetap dipatuhi.

Haris mengatakan BPBD saban hari menerjunkan satu atau dua petugas menyambangi tiga desa di kawasan rawan bencana erupsi Merapi di Kecamatan Kemalang yakni Sidorejo, Tegalmulyo, dan Balerante. Mereka mendatangi warga yang menggelar ronda malam.

Rencananya, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Klaten dengan BPBD Sleman, DIY, bakal menggelar patroli bersama terutama di wilayah perbatasan yakni Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, dan Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY.

Patroli bersama tersebut bakal dimulai pekan ini. “Tujuannya biar saling mengenalkan antarsukarelawan dan warga di wilayah perbatasan. Ketika bencana terjadi kondisinya chaos dan tidak lagi mengenal batas wilayah. Semuanya membaur sehingga perlu ada pengenalan sukarelawan di dua wilayah perbatasan,” jelas dia.

Lebih lanjut, Haris menjelaskan selain mengoptimalkan pantauan Merapi dengan ronda serta patroli bersama, BPBD juga sudah menyiapkan logistik berupa masker jika sewaktu-waktu hujan abu mengguyur. Stok masker di kantor Kecamatan Kemalang sebanyak 10.000 masker.

Di Kantor Desa Balerante juga ada 6.000 masker, Desa Sidorejo 6.000 masker, Desa Tegalmulyo 2.000 masker, dan SMPN 3 Manisrenggo 450 masker. “Di gudang logistik BPBD masih ada stok 25.000 masker,” kata dia.

Sementara itu, hujan abu tipis juga terjadi di Dukuh Petung Lor, wilayah perkampungan teratas Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang. Kawasan perkampungan itu tak jauh dari dari wilayah Objek Wisata Deles Indah.

Hujan abu mengguyur Selasa pukul 21.45 WIB dengan durasi tiga hingga lima menit. “Hanya rintik dan terlihat ketika diperhatikan saksama. Informasinya di Mriyan, Musuk, Boyolali, juga sama," kata salah satu warga Dukuh Petung, Kuri, saat dihubungi Solopos.com, Selasa.

Kuri memastikan tak ada kepanikan dan warga masih biasa saja meski guguran lava yang terpantau kian panjang. "Warga tidak ada yang panik, normal saja. Justru jadi wisata malam. Yang muda-muda tetap ronda seperti biasa," jelas Kuri.