Emas Randu Kuning di Wonogiri Terbentuk Sejak Jutaan Tahun Lalu

Aktivitas pengeboran untuk eksplorasi tambang emas oleh PT Alexis di Bukit Randu Kuning, Desa Jendi, Selogiri, Wonogiri, beberapa tahun lalu. (Solopos - Dok)
30 Januari 2019 13:00 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Emas yang terkandung di kawasan Bukit Randu Kuning, Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, Wonogiri  terbentuk dari proses geologi yang sangat kompleks selama jutaan tahun lalu.

Secara spesifik, emas tersebut terbentuk dari bijih mineral yang dibawa larutan hidrotermal. Larutan itu merupakan proses magmatik fase akhir.

Kepala Seksi Geologi Mineral dan Batu Bara (Geominerba) Cabang Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Sewu Lawu, Yulianto, saat ditemui Espos di kantornya di kawasan kota Wonogiri, Kamis (24/1/2019), menyampaikan pembentukan emas (Au) biasanya berasosiasi dengan mineral-mineral sulfida (belerang) antara lain pyrite (FeS2), galena atau timbal (PbS), chalcopyrite (FeS2H2O) atau tembaga, dan sebagainya. Namun di antara mineral-mineral logam tersebut yang paling berharga adalah emas seperti yang terdapat di kawasan Randu Kuning.

Yulianto menjelaskan genesa atau pembentukan emas di kawasan Randu Kuning dipengaruhi kondisi geologi kawasan ini yang merupakan bagian dari Pegunungan Selatan sisi timur. Pegunungan ini terbentuk sebagai akibat dari tumbukan (subduksi) antara lempeng samudra dan lempeng benua yang diperkirakan dimulai sejak kala eosen hingga oligosen (56-34 juta tahun lalu). Pegunungan Selatan tersusun atas batuan-batuan yang merupakan endapan laut.

“Akibat dari aktivitas tumbukan antarlempeng dalam kurun waktu jutaan tahun, maka endapan-endapan tersebut terangkat ke permukaan, sekaligus menghasilkan struktur-struktur geologi, antara lain berupa perlipatan [perbukitan], sesar-sesar, dan retakan-retakan batuan,” terang Yulianto yang mendampingi kepala cabang dinasnya, Suhardi.

Dia melanjutkan kompleksitas dari aktivitas penyesaran dan adanya retakan-retakan lapisan batuan inilah yang dahulunya menyebabkan terjadinya intrusi magmatik dan pembentukan vulkanisme di kawasan Pegunungan Selatan. Bukti nyata bahwa vulkanisme pernah berkembang di pegunungan selatan adalah terdapatnya gunung api purba Nglanggran di wilayah Gunung Kidul, DIY yang merupakan bagian dari Pegunungan Selatan sisi barat.

Yulianto menyebut emas pada umumnya terbentuk oleh proses hidrotermal, yakni fase akhir dari proses magmatik. Melalui proses itu, secara kimiawi larutan hidrotermal mengubah komposisi mineral batuan. Akibatnya, terjadi perubahan pula pada tekstur batuan yang dikenal sebagai batuan teralterasi. Proses itu salah satu penanda adanya mineral-mineral bijih berharga, termasuk emas. Selanjutnya, larutan hidrotermal mengisi retakan-retakan batuan membentuk urat-urat kuarsa. Pada akhirnya urat kuarsa itu terdapat bijih emas dan logam ikutan lainnya.

“Nah, Bukit Randu Kuning itu merupakan kompleks batuan beku. Warga menggali bukit untuk mencari urat-urat kuarsa yang didalam urat itu ada emasnya. Urat kuarsa terlihat secara kasat mata, warnanya putih susu dan memanjang sehingga orang bisa menemukannya. Yang dicari penambang itu batuan yang ada urat kuarsanya. Lalu batuan itu dipecah dengan glondong [molen kecil] agar lembut. Setelah itu diberi merkuri untuk mengikat emas,” imbuh Yulianto.

Melihat kondisi geologi yang ada, menurut dia, di wilayah Wonogiri lainnya dimungkinkan memiliki mineral logam berharga lainnya. Oleh karena itu perlu dikaji lebih dalam, termasuk kajian sosial dan lingkungan, sehingga potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk kemajuan Kabupaten Wonogiri.