Jaga Kota Solo Aman, Polresta Dibantu 1.000 Personel TNI

Ilustrasi polisi menjaga keamanan. (Antara/Aloysius Jarot Nugroho)
31 Januari 2019 03:17 WIB Kurniawan Solo Share :

Solopos.com, SOLO-Seluruh stakeholder di Kota Solo diminta pro aktif menjaga situasi kondusif wilayah menjelang penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan Pemilu 2019. Sebab mendekati pelaksanaan pemilu ada potensi gangguan keamanan di Kota Bengawan.

Polisi akan menindak tegas pembuat onar di Kota Bengawan. Pernyataan itu disampaikan Kapolresta Solo, Kombes Pol Ribut Hari Wibowo saat memberikan sambutan acara Focus Group Discussion (FKG) bertema Menjaga Kerukunan dan Toleransi untuk Terpeliharanya Kota Solo yang Aman, Damai dan Sejuk di The Sunan Hotel, Rabu (30/1/2019).

“Sekarang bila ada pelanggaran [hukum] saya sikat betul. Bentuk dari perhatian pemerintah saat ini saya mendapat BKO 1.000 tentara dan polisi. Pasukan ini bisa saya kendalikan setiap saat, 24 jam sehari. Bantuan pasukan tambahan ini untuk menegakkan aturan secara profesional. Tapi kami butuh bantuan semua pihak,” tutur dia.

Kapolresta menjelaskan untuk menjaga iklim kondusif Kota Solo di tahun politik dirinya berkomitmen untuk tidak hadir dalam setiap kegiatan politik. Sikap tersebut menurut dia untuk menjaga perasaan antara kontestan pemilu sekaligus menegaskan sikap netral polisi dalam setiap pelaksanaan pesta demokrasi masyarakat.

“Tahun politik harus betul-betul saling menjaga agar event lima tahunan tidak mengoyak kerukunandi Solo. Sengaja saya ambil kebijakan untuk tidak hadir dalam undangan-undangan berbau politik. Tapi kalau kegiatan-kegiatan keagamaan saya akan datang. Dan saya sudah buktikan itu datang di kegiatan keagamaan,” imbuh dia.

Kombes Pol Ribut menerangkan menciptakan keamanan dan kenyamanan di suatu wilayah bukan perkara mudah. Situasi akan semakin berat bila sudah terlanjur terjadi konflik horizontal antarwarga. Kerukunan masyarakat terkoyak, antar tetangga saling curiga mencurigai, hingga hancurnya perekonomian wilayah itu.

Ribut mencontohkan hancurnya Poso dan Ambon beberapa tahun lalu karena konflik antarwarga. “Pertanyaannya sekarang apakah kita rela Solo dikotori orang-orang tak bertanggung jawab? Jawabannya kan tentu tidak. Mari kita jaga bersama Solo yang aman dan damai ini dari berbagai gangguan dan ancaman,” seru dia.

Apalagi Solo pernah dinobatkan menjadi kota paling layak huni di Tanah Air. Artinya ada parameter yang dinilai sehingga Solo mendapatkan predikat itu. “Kalau Solo tidak kondusif kasihan masyarakat. Efek domino ke ekonomi sangat besar. Kalau Solo tidak aman siapa yang mau investasi. Solo kan menjual jasa dan pariwisata,” urai dia.