Ekskavator 26 Ton Terdampar 3 Hari di Sungai Grompol Sragen

Warga menyaksikan ekskavator yang terdampar di dasar Sungai Grompol, Dusun Klembon, Desa Pilang, Masaran, Sragen, Kamis (31/1/2019). (Solopos - Moh. Khodiq Duhri)
31 Januari 2019 11:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Satu unit ekskavator terdampar di Sungai Grompol, Dusun Klembon, Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Sragen, sejak Selasa (29/1/2019) karena mesinnya mati.

Hingga Kamis (31/1/2019) pagi, proses evakuasi ekskavator tersebut terkendala tingginya debit air di anak Sungai Bengawan Solo tersebut.

Ekskavator tersebut sedianya digunakan untuk memperbaiki kerusakan tebing sungai yang longsor dalam sepekan terakhir. Balai Besar Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) sudah mengirimkan ribuan karung berisi tanah untuk mengantisipasi longsoran tebing sungai dan erosi tidak bertambah parah.

Namun, proses perbaikan tebing baru dimulai beberapa menit, mesin ekskavator tersebut mati. Proses evakuasi ekskavator itu dimulai sejak Selasa pagi sekitar pukul 09.00 WIB.

Satu ekskavator lain dikerahkan untuk membuat bendungan guna mengalihkan aliran air. Namun, hujan yang terus turun di hulu sungai wilayah Karanganyar membuat debit air terus meninggi.

Proses evakuasi yang berlangsung hingga pukul 23.00 WIB tersebut pun belum membuahkan hasil. Pada Rabu (30/1/2019) sekitar pukul 09.00 WIB, dua ekskavator lain dikerahkan untuk membuat bendungan sementara.

Namun, lagi-lagi tingginya debit air membuat upaya evakuasi ekskavator yang juga berlangsung hingga pukul 23.00 WIB gagal dilakukan. Pada Kamis (31/1/2019) pagi, upaya evakuasi kembali dilanjutkan.

Kali ini, petugas BBWSBS mengerahkan 10 unit mesin diesel untuk menyedot air. Menurut petugas dari BBWSBS, Suharso, ekskavator itu beratnya mencapai sekitar 26 ton.

"Kami tidak mungkin menggunakan crane untuk mengangkatnya karena akses menuju lokasi sangat sempit. Solusinya ya kami harus memperbaiki mesinnya saat sudah kering. Itu sebabnya, kami harus membendung air supaya mesin ekskavator bisa diperbaiki," terang Suharso saat ditemui wartawan di lokasi.

Erosi Sungai Grompol terjadi sepanjang sekitar 30 meter dan lebar sekitar 10 meter. Sejak dinormalkan pada 2006 silam, tebing Sungai Grompol yang membentuk letter U di lokasi memang kerap mengalami erosi.

Kali terakhir, erosi terjadi di tebing anak Sungai Bengawan Solo ini pada Selasa (22/1/2019) pagi. Erosi tersebut membuat bangunan rumah Joyo Wagimin yang sudah dikosongkan nyaris tanpa jarak dengan bibir sungai.

"Longsor itu terjadi pada pagi hari sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu sebetulnya debit air belum besar. Tidak banjir. Tapi, arus air terus mengikis bagian bawah tebing sehingga mengakibatkan longsor [erosi],” jelas Tarno, 40, anak dari Joyo Wagimin saat ditemui Solopos.com di lokasi.