Aneka Jenang Buatan Joho Jadi Alternatif Oleh-Oleh Khas Sukoharjo

Seorang pengrajin jenang tengah mengaduk adonan di rumahnya di Kelurahan Joho, Kecamatan Sukoharjo, Sabtu (26/1/2019). (Solopos - Bony Eko Wicaksono)).
01 Februari 2019 16:28 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO-Beraneka ragam jenang yang diproduksi industri rumah tangga menjadi salah satu oleh-oleh khas Sukoharjo. Penganan tradisional itu kerap diburu para pelancong atau wisatawan yang tengah singgah menghabiskan waktu di Solo dan sekitarnya.

Mereka rela menempuh perjalanan belasan kilometer hanya untuk membeli jenang.  Salah satu sentra pembuatan jenang di Kelurahan Joho, Kecamatan Sukoharjo. Beberapa home industry tetap eksis memproduksi beraneka ragam jenang seperti krasikan, wingko babat dan wajik. Makanan tradisional ini  masih bertahan di tengah gempuran makanan  yang dibuat secara modern.

Adalah Sukardi. Pria paruh baya ini sehari-hari bekerja membuat jenang di bagian belakang rumahnya. “Rata-rata [produksi jenang] sekitar 20 potongan per hari. Ada krasikan, wajik dan wingko babat. Namun, jenang yang paling laris dan diburu masyarakat adalah wingko babat dan krasikan,” kata dia, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (26/1/2019).

Dibantu tiga karyawan, Sukardi membuat beraneka  jenis dan melayani penjualan di rumahnya. Kadang kala, ia menerima pesanan puluhan potong jenang saat ada masyarakat yang menggelar hajatan pernikahan di wilayah perdesaan.

Harga wingko babat dan jenang prol senilai Rp70.000/potong. Sementara harga jenang krasikan senilai Rp65.000/potong. “Rasanya manis serta teksturnya lembut dan kenyal. Ini yang menjadi citarasa jenang sebagai penganan tradisional khas Sukoharjo,” ujar dia.

Industri jenang ini berdiri sejak puluhan tahun lalu. Kala itu, jumlah pengrajin jenang mencapai ratusan orang. Mereka memproduksi jenang di rumah setiap hari. Lambat laun, jumlah pengrajin jenang berkurang lantaran tak sedikit  gulung tikar lantaran sepinya order.

Selain di Kelurahan Joho, beberapa pengrajin jenang lainnya juga bisa dijumpai di Kelurahan Kenep, Kecamatan Sukoharjo. “Saat musim penghujan, produksi jenang dikurangi lantaran jumlah pembeli turun. Misalnya, 20 potong dikurangi menjadi 15 potong,” ujar dia.

Pernyataan senada diungkapkan pembuat jenang lainnya, Marno. Jenang menjadi penganan paling laris diburu para pemudik yang pulang kampung saat libur Lebaran. Mereka memborong berbagai jenis jenang untuk oleh-oleh kerabat keluarga, tetangga rumah dan teman kantor. Kala itu, ia harus menambah produksi jenang hingga 60 potong per hari.

Marno berharap jenang yang menjadi potensi unggulan lebih diperhatikan pemerintah. Industri jenang harus dijaga agar tetap bertahan di era digital. “|Kami tak ingin para pengrajin jenang gulung tikar lantaran gerusan makanan kaleng. Ini makanan tradisional yang harus dilestarikan,” kata dia.