Pemdes Gemantar Sragen Kembangkan Ternak Ayam Agar Warga Tak Merantau

Desa Gemantar. (Tri Rahayu)
01 Februari 2019 02:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Pemerintah Desa Gemantar, Mondokan, Sragen akan berinvestasi senilai Rp800 juta untuk pengembangan ternak ayam yang dikelola warga agar mereka tak merantau meninggalkan desa.

Gemantar merupakan salah satu desa di ujung utara Sragen yang berbatasan dengan Kabupaten Grobogan. Desa di Kecamatan Mondokan, Sragen, itu memiliki potensi tenaga kerja.

Sebanyak 7.000 jiwa atau 2.230 keluarga mendiami desa yang terbagi dalam 35 RT, 12 dukuh, dan 5 kebayanan. “Penduduk di desa ini tidak bisa mengantungkan hidup dari hasil bumi karena hasilnya tidak maksimal. Banyak warga yang memilih merantau ke luar daerah bahkan sampai ke luar Jawa. Untuk memanfaatkan potensi tenaga kerja, kami mencoba memberi pekerjaan alternatif dengan menggandeng BUMDesa [badan usaha milik desa],” ujar Kepala Desa Gemantar, Mondokan, Sragen, Suradi, saat berbincang dengan Solopos.com, belum lama ini.

Pekerjaan alternatif itu berupa usaha ternak ayam pedaging. Suradi berharap ternak ayam cukup menjanjikan. Di Gemantar masih banyak lahan kosong yang jauh dari permukiman sehingga cukup representatif untuk usaha.

Butuh investasi Rp800 juta per kandang yang mampu menampung 20.000 ekor ayam. Suradi menagetkan membuat 4-5 kandang yang dikelola BUMDesa. Dia berencana mengivestasikan satu kandang per tahun.

Investasi kandang ayam, bagi Suradi, merupakan investasi jangka panjang yang bisa mendatangkan pendapatan asli desa (PADesa). Suradi berharap dengan usaha ternak ayam tersebut Pemerintah Desa Gemantar bisa menghasilkan PADesa senilai Rp100 juta-Rp120 juta per tahun.

“Peluangnya besar dan permintaan pasarnya juga besar. Kami menggandeng mitra pihak ketiga. Kandang bisa bertahan 15-20 tahun. Tahun ini kami sudah menginvestasikan Rp300 juta untuk memulai pembuatan kandang,” tutur dia.

Ke depan dengan PADesa yang besar, Suradi bermimpi Gemantar menjadi tempat tujuan wisata. Namun, angan-angan itu terkendala masalah air karena Gemantar termasuk daerah rawan kekeringan saat musim kemarau.

“Air menjadi penyakit kronis di desa ini. Paling tidak untuk pencinta motorcross. Kami memiliki lahan untuk surkuit off road seluas 10 hektare,” tambah dia.