Tragis! Nenek-Nenek Sragen Ini Tinggal Diapit Kandang Ternak

Painem, 74, bersama pengurus Lazismu Sragen Ridwan Adi Sukmono di Dukuh Pucung Kulon RT 020, Desa Jurangjero, Karangmalang, Sragen, Rabu (30/1/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
01 Februari 2019 14:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Rumah berukuran 4 meter x 7 meter itu berdiri di antara kandang sapi dan kandang kambing di Dukuh Pucung Kulon RT 020, Desa Jurangjero, Karangmalang, Sragen.

Rumah hasil bantuan bedah rumah pada masa Bupati Sragen Agus Fatchur Rahman itu dihuni seorang perempuan lanjut usia (lansia), Painem, 74. Perempuan kelahiran 1 Januari 1945 itu tinggal seorang diri di rumah berlantai tanah itu.

Amben dengan kasur lusuh menjadi tempat tidurnya. Sekelilingnya terlihat kumuh. Dua kursi warna hijau yang rusak menjadi tempat jam dinding rusak di ruang sempit itu.

Satu meja kayu yang jarang dibersihkan menjadi tempat untuk menaruh makanan pemberian dari tetangga atau anak-anak tirinya. Painem tak memiliki anak dari hasil pernikahannya dengan almarhum Parmojoyo.

Selama ini hanya sejumlah anak tiri yang tinggal di lingkungan dekat rumahnya yang mengurus hidupnya. Rumah itu kosong saat Solopos.com menyambangi pada Rabu (30/1/2019) siang.

Wagiyem, 67, salah satu anak tiri Painem yang juga tinggal sendirian di rumah berjarak 50 meter dari rumah Painem datang. Ia segera mencari Painem begitu melihat kondisi rumah itu kosong.

Painem ternyata sedang duduk-duduk di depan rumah anak tiri lainnya, Kemin, 55. Wagiyem mengajak ibu tirinya itu pulang karena ada tamu dari Sragen.

Painem hanya mengenakan jarit untuk membalut tubuhnya hingga dada. Rambutnya hampir semuanya memutih terlihat tak beraturan. Ia berjalan perlahan menyusuri jalan cor selebar 1,5 meter menuju rumahnya.

“Itu kambing cucuku. Iya, gemuk-gemuk,” kata Painem saat melewati kandang kambing di samping rumahnya bersama Wakil Ketua Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Sragen, Ridwan Adi Sukmono.

Painem diantar sampai rumah. Ridwan sengaja datang untuk menindaklanjuti laporan warga tentang adanya warga miskin di dukuh itu. Pendengaran Painem sudah berkurang. Tutur katanya halus saat berbincang dengan Ridwan.

“Sampeyan daleme pundi? Kala wau tindak mriki nitih napa? [Anda rumahnya mana? Tadi ke sini naik apa?]” kata Painem kepada Ridwan.

Wagiyem dan Kemin sudah pasrah dengan kondisi Painem. Mereka sudah berusaha menghidupi Painem sesuai kemampuan mereka.

“Tapi simbok tidak mau dimandikan. Kalau buang hajat ya semaunya. Selama ini ia hanya diam. Tapi kalau dikasih makan ya dibawa pulang terus dimakan. Jadi tidak pernah minta makan apa-apa. Kalau main ke rumah tetangga juga dikasih makan dan dibawa pulang. Ya, hanya kebersihannya yang tidak bisa diatur. Kalau dikasih baju juga tidak mau,” keluh Kemin.

Kemin masih ingat rumah yang ditinggali Painem merupakan hasil bedah rumah pada masa Bupati Agus Fatchur Rahman. Rumah yang dihuni Painem itu menempati lahan milik adik Kemin yang merantau ke Batam.

“Data di kartu keluarga simbok [Painem] ikut adik saya. Kalau kartu tanda penduduknya tidak tahu. Simbok pernah berujar kalau meninggal tidak ada yang mengubur biar pemerintah yang mengubur jenazahnya. Saya tidak habis pikir kenapa seperti itu,” tuturnya.