Ayo Serbu, Randulanang Klaten Panen Durian

Pedagang menunjukkan buah durian yang mereka jual di lapak tepi jalan wilayah Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten, Selasa (29/1/2019).(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
01 Februari 2019 06:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Lapak beratap terpal biru berdiri di tepi jalan Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten. Di dalamnya, durian aneka ukuran menggantung pada bambu yang dipasang melintang. Tumpukan durian juga terlihat pada meja yang ditata menyiku.
Darni, 49, dan Hariyani, 42, membuka lapak berjualan durian itu sejak November 2018. Sudah menjadi kebiasaan warga Dukuh Manggis Tengah itu berjualan durian saban musim panen tiba di depan rumah mereka yang berada di tepi jalan raya.

Keduanya merupakan tetangga yang urunan untuk modal berjualan durian saban harinya. Mereka berjualan antara pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB. Nilai modal yang dikeluarkan beragam tergantung potensi pembeli yang bakal datang setiap hari. Mereka pun tak bisa mematok berapa banyak pembeli yang datang ke lapak mereka.

Untuk mendapatkan raja buah tersebut, mereka membeli dari petani di desa setempat yang menjadi salah satu sentra produksi durian terbanyak di Kabupaten Bersinar.

“Saya setiap pagi itu membeli durian langsung dari kebun agar dapat kualitas terbaik. Modalnya itu kalau Sabtu-Minggu Rp600.000-Rp800.000. Terkadang dengan modal sebesar itu habis. Kalau hari biasa [Senin-Jumat] modalnya Rp400.000 terkadang duriannya tidak habis,” jelas Darni saat ditemui di lapaknya, Selasa (29/1/2019).

Soal harga buah, Darni dan Hariyani mengatakan bervariasi tergantung ukuran untuk durian yang mereka jamin berkualitas. Harga satu buah berkisar Rp30.000-Rp80.000. Mereka juga menjual durian apa adanya atau tak bisa menjamin kualitas rasa buah. “Kalau yang apa adanya itu kisaran harga Rp25.000,” tutur Hariyani.

Darni menuturkan kualitas buah durian pada musim panen kali ini lebih baik ketimbang musim panen tahun lalu. Buah berasa manis dan pahit menyusul curah hujan beberapa bulan terakhir tak terlalu tinggi. “Kalau tahun lalu itu banyak buah yang mati karena terlalu sering hujan,” katanya.

Lebih lanjut, Darni mengatakan pada November 2018 hingga Januari 2019 ini, banyak didapatkan buah durian yang berkualitas. “Bulan-bulan seperti ini rasanya masih jos karena curah hujannya belum terlalu tinggi. Namun, itu tergantung yang memilih duriannya,” ungkapnya.

Lapak jualan durian milik Darni dan Hariyani merupakan satu di antara lapak pedagang durian yang berdiri di tepi jalan raya wilayah Desa Randulanang. Saban musim durian tiba, puluhan warga beramai-ramai membuka lapak di sepanjang jalan penghubung wilayah Kecamatan Ngawen-Jatinom-Karangnongko tersebut.

Kadus II Desa Randulanang, Sugiyarto, mengatakan ada 20-an warga yang berjualan di sepanjang jalan wilayah Desa Randulanang. Mereka memiliki pelanggan yang berdatangan terutama saat akhir pekan tiba dari wilayah Klaten, Solo, serta Jogja.

Sugiyarto mengatakan Randulanang merupakan sentra petani produksi buah durian. Saban keluarga di desa setempat dari total sekitar 975 keluarga memiliki minimal lima pohon durian. Saat musim panen tiba, saban pagi puluhan pengepul berdatangan ke desa setempat. Mereka memasarkan durian ke pasar tradisional atau dijual ke lapak pedagang durian seperti di sepanjang tepi Jl. Mayor Kusmanto, Desa Semangkak, Kecamatan Klaten Tengah.

Selain dijual ke pengepul, sebagian durian hasil panen dijual di tepi jalan wilayah Desa Randulanang. “Durian itu tidak dipanen. Petani biasanya hanya tinggal mengambil dari buah yang sudah jatuh. Itu artinya sudah masak,” kata dia.

Soal kualitas buah, ia tak menampik panen tahun ini lebih baik ketimbang panen sebelumnya. Kualitas durian di antaranya dipengaruhi kualitas dan jenis bibit, umur pohon, serta kondisi cuaca. Semakin jarang hujan mengguyur, kualitas durian semakin baik. “Jenis durian rata-rata yang ditanam itu durian lokal,” kata dia.

Kasi Kesejahteraan dan Pelayanan Desa Randulanang, Haryanto, mengatakan total luas lahan yang ditanami durian di Randulanang mencapai lebih dari 20 ha. Ia menjelaskan puncak panen durian biasa terjadi pada November-Februari.

Bagi Anda yang gemar berburu durian, sebaiknya mengingat tips sederhana memilih buah durian. Pertama, mencium aroma buah. Semakin harum aromanya, cita rasa semakin manis pahit. Kedua, memukul kulit buah. Jika dipukul terdengar suara buk-buk, rasa buah berkualitas. Kemudian memencet duri kulit buah. Jika duri empuk artinya buah sudah masak. Yang tidak kalah penting, mengecek gagang buah. Pastikan gagang buah tidak ada bekas irisan sabit atau benda tajam. Buah durian yang sudah masak akan jatuh sendiri dari pohonnya. Dan ukuran buah tidak jadi patokan.