Aktivitas Pertambangan Klaten Harus Disetop Jika Merapi Level Siaga

Penambang manual mengumpulkan pasir dari alur Kali Woro, Kecamatan Kemalang, Klaten, beberapa waktu lalu. (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
01 Februari 2019 22:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Aktivitas pertambangan terutama di alur Kali Woro lereng Gunung Merapi wilayah Klaten hingga kini belum dilarang berkaitan ancaman bencana seiring meningkatnya aktivitas gunung tersebut.

Penghentian pertambangan dilakukan jika status Merapi meningkat ke level siaga. Sedangkan saat ini, Merapi masih level waspada.

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Sri Yuwana Haris Yulianta, mengatakan selama status Merapi masih level II atau waspada, belum ada instruksi untuk melarang aktivitas pertambangan manual maupun menggunakan alat berat.

Namun, ia mengimbau aktivitas pertambangan mematuhi rekomendasi dari BPPTKG soal daerah yang harus steril dari aktivitas penduduk yakni radius 3 km dari puncak Merapi. Selain itu, penambang tetap memperhatikan faktor keselamatan apalagi saat ini memasuki musim hujan berpotensi terjadi banjir lahar hujan serta kondisi tanah di lokasi mudah longsor.

Haris mengatakan belum ada pelarangan penambangan berkaitan dengan potensi bencana mengacu pada Perbup No. 7/2014 tentang Rencana Kedaruratan Bencana. Dalam perbup itu, aktivitas pertambangan harus dihentikan ketika status Merapi memasuki level siaga.

“Saat memasuki level siaga itu wajib evakuasi termasuk aktivitas pertambangan dihentikan baik manual maupun alat berat. Ini berdasarkan pelajaran dari peristiwa erupsi 2010. Jadi, untuk evakuasi tidak perlu menunggu sampai status awas,” kata Haris saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (1/2/2019).

Terkait antisipasi potensi kerawanan memasuki musim penghujan, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten, Nur Tjahjono Suharto, mengimbau para penambang di sepanjang Kali Woro mengutamakan keselamatan diri lantaran tanah labil.

Soal antisipasi banjir lahar hujan di Kali Woro, Nur mengatakan setiap desa yang dilintasi kali tersebut sudah memiliki standard operating procedure (SOP) sendiri. Ada sukarelawan yang mengamati sekitar alur kali terutama ketika curah hujan tinggi di puncak Merapi.

“Ketika ada curah hujan tinggi dan potensi banjir lahar hujan, biasanya sudah ada yang memberi tahu para penambang manual untuk segera menghentikan aktivitas mereka,” kata dia.