Dapur Rumah Warga Ampel Boyolali Mendadak Ambruk

Niti Tukimin, 70, dan istrinya Ngatinem, 60, warga Dukuh Gunungsari, Desa Ngagrong, Kecamatan Ampel, Boyolali, berdiri di lahan bekas dapurnya yang ambruk pada Sabtu (2/2 - 2019) dini hari. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
02 Februari 2019 17:45 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI — Dapur di rumah warga RT 002/RW 011 Dukuh Gunungsari, Desa Ngagrong, Kecamatan Ampel, Boyolali, ambruk hingga rata dengan tanah, Sabtu (2/2/2019) dini hari.

Sementara pemilik rumah Niti Tukimin, 70, dan istrinya Ngatinem, 60, selamat karena berada di ruang utama yang terpisah dengan dapur itu.

Ngatinem menceritakan saat kejadian dia sedang tidur bersama suaminya. Sekitar pukul 01.00 WIB, tiba-tiba dirinya dan Tukimin mendengar suara keras dari arah dapur yang berada di samping rumah. Keduanya pun terbangun dan langsung mengecek sumber suara.

“Tiba-tiba ada suara brukk dua kali dari luar. Lalu kami bangun dan keluar. Ternyata suara itu berasal dari dapur kami. Ambruk,” ujarnya saat ditemui solopos.com.

Ngatinem mengaku sangat terkejut karena bangunan seluas sekitar 10 meter x 5 meter yang dipakai untuk menyiapkan kebutuhan makan dan minum itu sudah rata dengan tanah.

Namun Ngatinem dan Tukimin hanya bisa pasrah tidak bisa menyelamatkan apa pun karena cuaca gelap. Sehingga kemudian keduanya kembali tidur dan membiarkan dapurnya yang ambruk itu apa adanya.

Pagi harinya, warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut memberitahu warga lain untuk bergotong-royong membersihkan reruntuhan bangunan.

Ketua RT setempat, Sutris, mengatakan bangunan dapur itu memang sudah lapuk dimakan usia. “Bangunan ini usianya sudah sekitar 10 tahun sehingga sudah rapuh atau lapuk. Dan belakangan kan sering hujan dan angin sehingga semakin mengurangi kekuatan bangunan,” ujarnya.

Pihaknya belum dapat menaksir kerugian akibat musibah itu. Namun dia mengharapkan bantuan masyarakat untuk membangun kembali dapur milik petani yang sudah berusia lanjut ini.

“Mereka punya seorang anak, tetapi merantau ke Semarang. Jadi sehari-hari mereka hidup bedua,” imbuhnya.

Sementara itu, Sutris menambahkan pemerintah desa sudah datang dan melihat lokasi.

“Tadi juga ada sudah ada bantuan dari Pemkab berupa makanan, minuman, handuk, sapu, tikar, ember, dan sebagainya,” ujarnya.