Gara-Gara Fogging DB, Cucakrowo Warga Klaten Mati

Petugas Dinkes Klaten melakukan pengasapan atau fogging di Dukuh/Desa Barukan, Kecamatan Manisrenggo, Klaten, Kamis (31/1/2018).(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
02 Februari 2019 09:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten mengimbau warga rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Pengasapan atau fogging tak efektif dan dinilai memiliki banyak efek negatif salah satunya terhadap hewan piaraan.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Klaten, Anggit Budiarto, mengatakan sebulan terakhir tercatat ada 10 orang terserang DB serta tak sampai menyebabkan korban meninggal dunia. Sebaran warga yang terserang DB di Kecamatan Bayat dan Manisrenggo.

Jumlah kasus awal tahun ini lebih banyak ketimbang angka kasus pada periode yang sama yakni Januari 2018 tercatat satu kasus DB. “Selama setahun pada 2018 itu ada 20 kasus dengan satu orang meninggal dunia,” jelas Anggit saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (31/1/2019).

Belum ada penetapan KLB lantaran angka kasus DB tak meningkat signifikan. “Namun, kami tetap meminta agar waspada terhadap serangan DB dengan terus melakukan pencegahan. Karena melihat dari angka kasusnya yang sudah setengah dibanding sepanjang tahun 2018,” tutur dia.

Pencegahan DB dilakukan dengan PSN secara rutin dua kali dalam sepekan. PSN bisa dilakukan dengan menutup dan rutin menguras bak penampungan air. Selain itu, rutin mengecek bak penampungan air atau tempat-tempat yang berpotensi menjadi tampungan air hujan guna memastikan tak ada jentik nyamuk.

“Di mana ada air yang menggenang, di sana tidak ada tanah, itu yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Makanya, perlu pengecekan secara rutin,” kata dia.

Ada kelompok masyarakat yang tersebar di berbagai kecamatan selama ini rutin menggelar PSN. Anggit mencontohkan seperti di Kecamatan Bayat ada kelompok yang diberi nama Bangjeni, di Kecamatan Karangdowo ada Batik Merapi, serta Kecamatan Klaten Tengah ada Ronda Jentik.

Terkait pengasapan atau fogging, Anggit menjelaskan fogging dilakukan di Desa Banyuripan, Kecamatan Bayat dan Desa Barukan, Kecamatan Manisrenggo selama Januari 2019. “Fogging memang dari permintaan warga. Tetapi, kami tidak serta merta melakukan fogging. Ada kriteria yang harus dipenuhi seperti ada temuan kasus positif DB dan ada dua penderita panas dalam radius 100 meter. Syarat lainnya yakni diawali dengan PSN agar jentik nyamuk bersih dulu,” ungkapnya.

Anggit menegaskan fogging bukan pilihan terbaik untuk mengatasi DB. PSN menjadi cara paling efektif agar kasus DB tak semakin meningkat. Fogging justru dinilai memberikan dampak negatif. “Dampak langsung ke orangnya seperti lantai rumah menjadi lengket karena fogging dilakukan menggunakan obat dan solar. Berisiko kontaminasi pada makanan. Ketika obat fogging dihirup wereng atau serangga lainnya, justru membuat hewan tersebut resistansi atau kebal dan tentunya berdampak pada pertanian,” jelas dia.

Selain itu, fogging berisiko pada perkembangan hewan piaraan seperti burung berkicau. Anggit menjelaskan pasca kegiatan fogging, Dinkes pernah dikomplain warga lantaran burung atau unggas yang mereka pelihara mati atau enggan bertelur. “Pernah ada yang komplain jika burung Cucakrowo mati setelah fogging. Makanya, ketika ada permintaan fogging, kami selalu jelaskan dulu dampaknya seperti apa dan harus diawali dengan PSN,” jelas dia.

Petugas Puskesmas Manisrenggo, Ireng Nastiti, menjelaskan awalnya ada laporan belasan warga dukuh setempat yang mengalami demam tinggi. Namun, dari hasil diagnosis rumah sakit, hanya ada tiga warga yang dinyatakan positif DB. “Sebelum ada fogging ini kami lakukan penyuluhan termasuk kegunaan dan efek sampingnya,” jelas dia.