Warganet Tak Setuju Perahu VOC Sragen Disulap Jadi Spot Selfie

Seorang warga menaiki perahu peninggalan VOC yang sudah dibersihkan di Dukuh Jarak RT 017, Desa Karanganyar, Plupuh, Sragen, Rabu (30/1/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
03 Februari 2019 09:00 WIB Chelin Indra Sushmita Solo Share :

Solopos.com, SRAGEN – Rencana pemindahan perahu peninggalan kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Hutan Kota Sragen menjadi perhatian warganet. Perahu itu telah 20 tahun teronggok di Dukuh jarak RT 017, Desa Karanganyar, Kecamatan Plupuh, Sragen.

Nantinya, perahu tua nan bersejarah itu bakal dijadikan spot selfie. Saat ini, perahu VOC berbahan tembaga itu masuk inventarisasi Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sragen. Namun, rencana pemindahan tersebut kurang disetujui warganet.

Sejumlah netizen berasumsi perahu itu bakal justru bakal rusak. Mereka khawatir perahu itu justru bakal dicorat-coret tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Komentar warganet tentang kekhawatiran tersebut disampaikan lewat akun Facebook Solopos.com, Jumat (1/2/2019).

"Di museum-in aja. Kalau ditaruh di ruang terbuka cepat lapuk," komentar Ardian Pras.

"Kok malah dibawa ke sana? Malah dicorat-coret. Kalau malam la la la la," imbuh Hanin Marai Ngangeni.

"Mistis. Penghuni alam lain nanti mencarinya hlo," lanjut Deen Assalam.

Diberitakan sebelumnya, Koordinator Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sragen, Andjarwati Sri Sajekti, bersama dua orang anggotanya terjun melihat kondisi perahu yang tergeletak di kebun milik warga lingkungan Dukuh Jarak RT 017, Sunaryo.

Mereka melihat kondisi perahu yang semula terbengkalai dan tertimbun tanah dan sampah, kini sudah dibersihkan warga. Slamet, 57, warga Jarak RT 016, dan Suhar, 55, warga Jarak RT 017, membersihkan tanah dan sampah dari perahu itu selama seharian pada Selasa (29/1/2019). Dua orang warga itu memang diperintahkan Kepala Desa Karanganyar untuk membersihkan tanah dan sampah yang menutupi perahu itu atas perintah Bupati Sragen.

Kini, perahu itu sudah terlihat wujud aslinya. Suradi, 50, warga yang tinggal 50 meter dari lokasi perahu, sempat mencari prasasti berupa plakat dari tripleks yang bertuliskan waktu evakuasi perahu itu dari dasar Bengawan Solo. Prasasti itu dimanfaatkan Suradi sebagai bagian dari lemari pakaian di rumahnya.

Suraditelah melakukan upacara ritual sebelum memindah perahu VOC tersebut. Ia berkomunikasi dengan penunggu perahu itu agar saat dipindahkan ke Sragen tetap meninggalkan sesuatu yang baik untuk warga di Dukuh Jarak.