Panggil Aku Ampyang, Blasteran Jawa-Tionghoa di Solo

Ilustrasi Ampyang (Solopos - Whisnupaksa)
03 Februari 2019 20:20 WIB Alifia Nur Maftukha Yuliana Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Namanya Adit . Tingginya 175 cm. Kulitnya sedikit gelap, rambutnya lurus, dan matanya sipit. Asalnya Sragen. Adit yang saat ini mengenyam pendidikan di salah satu universitas di Surabaya ini lahir dari pasangan beretnis Jawa dan Tionghoa. Ayahnya bernama Suyono dan ibunya Huaiyan Lie, biasa disapa Indah Lie.

Melalui aplikasi perpesanan Whatsapp, dia bercerita perjodohan ayah dan ibunya. Ternyata yang berinisiatif menjodohkan keduanya adalah ibu Indah Lie. Orang tua Indah Lie mengenal Suyono karena mereka mitra dagang di Solo. Suyono dikenal sebagai pemuda Jawa yang sudah memiliki penghasilan pada usia muda, cerdas dalam berbisnis, dan menghormati siapa pun. Akhirnya Suyono dan Indah Lie menikah pada 1997 dan melahirkan Adit pada 1998.

Adit bercerita dalam keluarga itu, ibunya lebih mendominasi dalam hal keuangan, perkembangan bisnis keluarga, dan kedisiplinan. Sementara ayah Adit lebih banyak mengatur nilai-nilai kehidupan, idealisme, kedewasaan, serta mengajarkan organisasi kepada anak-anaknya.

Walaupun kedua keluarga itu berbeda etnis, tak ada masalah berarti dalam kehidupan sosial. Mereka menghormati masing-masing budaya Jawa maupun Tionghoa.  Adit menuturkan hal yang mendasari toleransi dan persatuan dua budaya dalam keluarganya adalah prinsip yang dipegang teguh kakek dan neneknya yang beretnis Tionghoa,

“Ibaratnya, kalau kita hidup di Amerika, ya kita harus bisa jadi orang Amerika. Kalau kita hidup di Solo, ya harus bisa jadi orang Solo. Itulah yang selalu dikatakan kakek dan nenek,” tutur Adit, Jumat (1/2/2019).

Dia menyadari berasal dari dua kebudayaan. Soal ampyang, Adit menganggap biasa penggunaan istilah itu.

Lain lagi cerita Oktavia Herawati Kusyanto yang akrab disapa Vina. Perempuan asal Jl. Yos Sudarso, Jayengan, Solo, itu juga memiliki orang tua dari etnis Jawa-Tinghoa. Bedanya dengan Adit, ayah Vina Tionghoa bernama Kho Thiam Hong atau Danny Kusyanto. Ibunya asli Jawa bernama Darmastuti Dewi.

Vina merasakan toleransi antarbudaya dalam keluarga. Bagaimana tidak? Dalam satu tahun, keluarga Vina biasa merayakan tiga hari besar, yakni Idulfitri, Tahun Baru Imlek, dan Natal. Perkawinan Kho Thiam Hong dan Darmastuti Dewi sempat ditentang keluarga besar. Akhirnya, kedua keluarga menerima perbedaan tersebut.

“Saat Idulfitri, kami semua makan ketupat bersama. Saat Natal dan perayaan Imlek pun kami juga selalu berkumpul bersama,” kata Vina melalui WhatsApp, Jumat.

Dia sekarang bekerja di Jakarta, hanya pulang ke Solo saat perayaan keluarga seperti Natal, Idulfitri, dan perayaan Imlek.

Ayah dan ibu Vina menikah pada 1981 setelah sebelumnya bertemu di SPBU dan falling in love at the first sight atau jatuh cinta pada pandangan pertama. Vina mengaku ayahnya lebih mendominasi dalam mengatur keluarga. Selama 38 tahun menikah, keluarga mereka begitu akur walau memiliki banyak perbedaan adat, etnis, dan agama.

Keluarga Vina dan Adit adalah dua dari sekian banyaknya pernikahan antaretnis, klan, dan suku disebut amalgamasi. Amalgamasi adalah istilah kuno untuk perkawinan antaretnik  atau ras. Istilah umumnya adalah perkawinan antarbudaya.

Perkawinan beda etnis, Jawa dan Tionghoa, biasa disebut ampyang. Tahu kan ampyang? Jenis makanan khas Jawa yang dibuat dari perpaduan gula jawa dan kacang tanah. Rasanya manis, warnanya cokelat gelap. Jawa diwakili oleh gula, sedangkan kacang sebagai simbol dari Tionghoa.

Penggunaan istilah ampyang pada penyebutan peranakan etnis Jawa dan Tionghoa merupakan bukti dua kebudayaan yang melebur menjadi satu. Ampyang adalah contoh nyata adanya akulturasi dan asimilasi antara kebudayaan Tionghoa dan Jawa di Solo dan daerah lain di Jawa.

Tidak hanya dalam bentuk perkawinan, hubungan harmonis antara etnis Jawa dan Tionghoa terjalin baik dalam komunitas perkampungan. Kawasan Pecinan di Kelurahan Sudiroprajan adalah miniatur dari pertemuan dua budaya itu. Di sana, orang Tionghoa biasa berbicara bahasa Jawa kepada sesama etnis maupun kepada tetangga yang orang Jawa.

Orang Tionghoa datang ke Indonesia pada abad ke-16 untuk berdagang. Mereka bermukim di kota-kota besar di Indonesia, terutama Batavia. Pada 1740, orang Tionghoa di Batavia berseteru dengan VOC. Akibatnya, mereka lari ke luar Batavia, salah satunya Solo. Pada masa itu, awalnya mereka tinggal di Kartasura. Lama kelamaan, etnis Tionghoa bermukim di daerah Sudiraprajan di pinggir Kali Pepe. Walaupun sempat terjadi pertentangan, mereka akhirnya membaur. Bahkan, sebagian dari orang Tionghoa kawin-mawin dengan orang Jawa sehingga muncul istilah ampyang. Secara fisik, mereka pada umumnya memiliki ciri bermata sipit dan berkulit gelap.

Etnis Tionghoa di Solo berakulturasi dan berasimilasi dengan kebudayaan lokal. Mereka membaur, bersama merajut perbedaan. Salah satu hasil dari persinggungan budaya itu adalah perayaan Imlek yang dalam beberapa tahun terakhir digelar secara meriah. Saat ini, perayaan Imlek di Solo tak hanya dinantikan oleh etnis Tionghoa dan para ampyang, namun juga warga lainnya. Buktinya,  saat lampion dipasang di kawasan Pasar Gede dan Jl. Jenderal Sudirman, ribuan orang Solo dan sekitarnya menyambut suka cita. Apa pun etnisnya, mereka berswafoto dengan latar belakang lampion merah, ikon dari etnis Tionghoa.

Perayaan itu dikemas dalam acara Grebeg Sudiro. Dalam Grebeg Sudiro, ada kirab budaya dengan membawa gunungan kue keranjang. Padahal orang  Jawa biasa mengirab gunungan berisi hasil bumi. Kemudian kawasan Pasar Gede dan Jl. Jenderal Sudirman juga dihiasi lampion.

Etnis Tionghoa telah menjadi bagian dari Kota Solo. Asimilasi dan akulturasi antara budaya Jawa dengan budaya Tionghoa, hingga munculnya ampyang merupakan bukti harmonisasi warga Solo yang dinamis dan menerima nilai keberagaman.