Layanan Online Tiket KA Prameks Banjir Komplain, Kenapa?

KA Prameks. (Solopos/Dok)
03 Februari 2019 19:15 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Layanan pemesanan tiket online untuk kereta api (KA) Prambanan Ekspres (Prameks) melalui aplikasi KAI Access sejak 1 Februari lalu masih menuai banyak komplain dari para calon penumpang.

Komplain itu mulai dari pemesanan tiket H-7 yang tidak bisa dilakukan hingga sistem pembayaran yang dinilai kurang terjangkau user.

PT KAI meluncurkan pemesanan tiket online untuk KA lokal tujuan Solo-Kutoarjo melalui aplikasi KAI Access pada telepon pintar berbasis Android maupun Ios. Sebelumnya, selain bisa memilih tiket sesuai tanggal dan jam yang dikehendaki (mulai tujuh hari sampai dengan lima menit sebelum keberangkatan kereta), pada aplikasi ini juga ditampilkan ketersediaan kursi atau kuota khususnya jika slot hampir habis.

Penumpang KA Prameks, Rizqi, menilai sistem pembayaran dengan e-wallet pada pemesanan tiket online dinilai kurang ramah bagi pembeli. Hal ini lantaran PT KAI hanya menyediakan tiga pilihan cara pembayaran, yakni layanan T-Cash Telkomsel, UnikQu (BNI), dan Mandiri E-Cash.

“Sebenarnya pemesanan tiket online makin mempermudah konsumen khususnya pengguna setia KA Prameks. Akan tetapi, sistem pembayarannya tidak semua orang punya e-wallet tersebut. Selain itu, untuk e-wallet tertentu tidak bisa memakai akun orang lain guna membayar e-ticket. Artinya, kita yang booking kita pula yang harus membayar dengan akun atau identitas yang sama,” ujarnya, kepada Solopos.com, Minggu (3/2/2019).

Perempuan asal Solo ini menambahkan saat check in selain pengecekan e-ticket, penumpang juga harus menunjukkan identitas pribadi seperti kartu tanda penduduk (KTP). Hal ini sama dengan saat pengecekan identitas pada penumpang kereta api jarak jauh.

“Padahal saat pesan online, data kita sudah masuk. Apa sistem digital tidak matching atau bagaimana. Seharusnya tinggal menunjukkan e-ticket yang ada pada telepon seluler kita,” imbuhnya.

Penumpang lain, Fiana Raharjo, menambahkan saat pembayaran menggunakan T-Cash memang bisa menggunakan akun lain. Akan tetapi, ada biaya admin tambahan atau charge sebesar Rp6.500.

“Saya top-up T-Cash menggunakan bank lain dari akun kakak saya kena charge Rp6.500. Padahal harga tiket keretanya saja hanya Rp8.000,” paparnya.

Sementara itu, Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi (Daops) VI Yogyakarta, Eko Budiyanto, meminta maaf lantaran layanan e-ticket untuk KA Prameks belum sempurna. Salah satunya belum bisa melayani pemesanan tiket untuk H-7.

Padahal sebelumnya, saat layanan ini diluncurkan PT KAI mengklaim pemesanan bisa dilakukan H-7 hingga lima menit sebelum keberangkatan kereta.

“Tim kami terus menyempurnakan layanan e-ticket Prameks ini. Senin [4/2/2019] mudah-mudahan pemesanan tiket untuk H-7 sudah bisa dilakukan,” katanya.

Di sisi lain, layanan T-Cash Telkomsel ini dimungkinkan provider menggandeng perbankan untuk pengisian pulsanya. Dalam hal ini bisa jadi perbankan tertentu juga ambil untung saat top-up pulsa.

Menurutnya, ke depan kerja sama dengan perbankan lain sangat dimungkinkan demi memudahkan pelayanan terhadap konsumen. Selain itu, penunjukan KTP kepada petugas demi mencocokkan keterangan e-ticket pada ponsel dengan identitas diri.

Di samping itu, jatah pembelian tiket online memang dibatasi agar calon penumpang tidak jor-joran dalam melakukan pemesanan. Hal ini juga mengakomodasi pelanggan yang membeli tiket secara go show atau pun pesan offline.

General Manager Digital Product Area Expansion Telkomsel Jawa Bali, Heribertus Budi Ariyanto, dalam rilisnya mengatakan Telkomsel terus berinovasi untuk memberikan layanan-layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan saat ini.

Dengan adanya kerja sama pembayaran melalui T-Cash ini diharapkan pengguna kereta api khususnya rute Yogyakarta-Solo atau sebaliknya akan semakin dimudahkan.

“Kami berharap kerja sama yang baik ini bisa terus ditingkatkan mengingat tren masyarakat saat ini yang serba digital. Tentunya pembelian tiket kereta api menggunakan T-Cash adalah solusi dari gaya hidup digital yang bisa ditawarkan kepada pelanggan,” paparnya.