Setiap Hari, Ratusan Juta Rupiah Berputar di Perayaan Imlek Solo

Warga memadati kawasan Pasar Gede Solo yang dihiasi warna warni lampion untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2570/2019, Sabtu (2/2/2019) malam. (Solopos - Burhan Aris Nugraha)
03 Februari 2019 21:15 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Rangkaian acara menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2570/2019 di Kota Bengawan yang digelar sejak Senin (28/1/2019) memberi dampak ekonomi cukup besar.

Magnet lampion warna-warni dan hiburan yang menyertainya ikut mendatangkan rezeki bagi pedagang. Tak hanya bagi warga lokal Solo dan sekitarnya, tapi lintas provinsi.

Diperkirakan perputaran uang di event tahunan itu menembus ratusan juta rupiah per hari. Perkiraan tersebut dihitung dari ratusan pedagang kuliner yang berjualan di kawasan pedestrian Pasar Gede, operasional perahu wisata, kantong parkir, pedagang mainan bertema Imlek, hingga jasa foto bersama manusia kostum.

Ketua panitia Grebeg Sudiro, Angga Indrawan, mengatakan jumlah pedagang yang terdaftar mencapai 200-an orang. Jumlah itu belum termasuk pedagang pendatang dan oprokan.

“Bisa 400-an kalau dihitung. Kalau tidak mendung, jualannya sangat laris,” kata dia saat ditemui wartawan, Minggu (3/2/2019).

Sementara untuk wisata Kali Pepe, panitia mengoperasikan dua perahu dan dua becak air. Tarif dipatok senilai Rp10.000 per orang dengan kuota 6-7 orang dewasa dan Rp30.000/dua orang untuk becak air. Per hari setidaknya 300 tiket terjual.

Wakil Ketua Panitia Grebeg Sudiro, Tomi Prihartanto, mengatakan angka tersebut belum ditambah jasa parkir yang menembus seribuan kendaraan roda dua dan 300-an kendaraan roda empat setiap malam.

Tarif kendaraan roda dua flat Rp2.000, sedangkan untuk mobil dipatok Rp3.000 per kendaraan. “Saat malam, manusia-manusia kostum juga hadir memeriahkan suasana. Mereka tidak ada tarif khusus karena hanya menyediakan kotak seikhlasnya. Pedagang mainan tema Imlek dari Cirebon itu sendiri jumlahnya seratusan,” ucap Tomi.

Salah seorang pedagang kuliner di Festival Grebeg Sudiro, Anik, 34, mengaku saat ramai bisa mengantongi duit hingga Rp500.000-an. Sosis bakar, kentang goreng, cup cake, dan es teh yang dijajakannya seharga minimal Rp3.000.

“Jualan sejak Minggu [27/1/2019] lalu. Ramainya baru empat hari terakhir. Pas ramai 50-an sosis bisa terjual, tapi kalau sepi paling enggak 20-an. Kalau sore ke malam sudah hujan deras ya enggak banyak pembeli. Rencananya jualan sampai lampion dilepas,” kata dia.

Hal senada disampaikan Sugeng Riyadi, 35, warga Kampung Kentingan, Kelurahan/Kecamatan Jebres. Penjual mainan itu mengaku bisa mendapatkan laba bersih Rp150.000 per hari.

Nilai itu didapatnya dari menjual barongsai mini senilai Rp20.000 per item dan es teh gelas. “Sehari terjual 20-an mainan. Saya selalu berjualan, setiap Imlek dan sudah jadi event yang saya tunggu setiap tahun,” ucap Sugeng.

Kisah berbeda disampaikan Sunarto, 58, warga Cirebon, yang sengaja melanglang ke Solo sejak Kamis (31/1/2019). Bersama seratusan rekannya, ia menginap di area Pagelaran Keraton Solo.

“Saya bawa 200 barongsai mini, sudah laku separuh lebih. Per item dijual Rp15.000-Rp20.000. Sehari bisa laku 20-30 item. Dapat informasi ada Imlekan dari jaringan teman-teman. Rencananya jualan sampai Senin [4/2/2019] malam,” kata dia.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Minggu malam, ribuan manusia tumpah ruah di area Balai Kota Solo, Jl. Jenderal Sudirman depan Bank Indonesia hingga sekitaran Pasar Gede Jl. Urip Sumoharjo. Beberapa juga menyemut di Kelenteng Tien Kok Sie.

Ketua Panitia Bersama Imlek 2019, Sumartono Hadinoto, mengatakan meriahnya perayaan Imlek tahun ini merupakan upaya mewujudkan misi membawa Solo menjadi destinasi wisata Imlek utama di Indonesia. Saat ini, Solo masuk dalam lima besar destinasi wisata Imlek di Indonesia bersama Jakarta, Lasem, Bogor, dan Singkawang.