Hujan Deras Tak Jadi Penghalang, Begini Kemeriahan Grebeg Sudiro di Solo

Peserta kirab membawa aneka makanan dan kue keranjang pada Grebeg Sudiro 2019 melintasi Jl. Urip Sumoharjo, Pasar Gede, Solo, Minggu (3/2 - 2019). (Solopos/Nicolous Irawan)
03 Februari 2019 22:18 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO - Musik khas Imlek mengawali Kirab Grebeg Sudiro 2019 di sekitaran Tugu Jam Pasar Gede, Solo, Minggu (3/2/2019) siang. Barongsai yang meliuk mengikuti irama menyita ribuan mata yang menyemut di sana. Papan Garuda Pancasila besar berikut prajuritnya lantas membuka jalan, mengawali kirab budaya yang digelar tahunan. Laku rombongan bergelombang. Satu demi satu menunjukkan kekhasan.

Tak lama kemudian, hujan mengguyur Kota Bengawan. Namun pengunjung tak banyak yang beranjak mundur. Mereka membuka payung, mengulur jaket ke kepala, dan berteduhkan jas hujan. Sebagian bahkan rela kuyub demi mengintip jalannya karnaval. Sementara, kreasi demi kreasi terus berjalan bertudung payung dan plastik. Tiruan gajah besar, replika tugu jam dan kelenteng hingga gunungan kerupuk mencuri perhatian.

Ketua panitia Grebeg Sudiro Angga Indrawan, mengatakan, kirab kali ini diikuti 54 potensi di sejumlah kelurahan di Solo dan sekitarnya. Sejumlah 25 di antaranya merupakan tim barongsai ternama, salah satunya Budi Dharma Solo.

“Jumlah yang kirab tahun ini berkurang dibanding tahun lalu karena rute yang diperpendek menyesuaikan renovasi Jl. Jendral Sudirman. Selain itu juga hujan, teman-teman barongsai yang dijadwalkan tampil terpaksa batal untuk mengantisipasi kerusakan perangkat,” kata dia, kepada wartawan, Minggu.

Usai kirab, panitia menyebarkan 4000an kue keranjang dari lantai II Pasar Gede. Sebelum disebar, kue tersebut dijadikan gunungan, dan ada pula yang dibentuk menyerupai ikon kota Solo Stasiun Jebres dan kelenteng di Surabaya. “Pesan kami dari tahun ke tahun tetap sama. Bagaimana menjaga harmoni dan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa di Sudiroprajan, khususnya, dan Solo, umumnya, tetap lestari,” kata Angga.

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, menyebut kirab lintas etnis ini telah menginjak tahun ke-12. Ia menyebut kreativitas peserta Imlek tahun demi tahun terus bertambah. Hal itu tampak dari kian uniknya jodang yang dibuat peserta. “Selain menjadi hiburan yang menarik, kirab ini adalah sarana edukasi bagaimana menjaga persatuan dan kesatuan antaretnis. Pembangunan karakter lewat budaya,” ucapnya.

Rudy juga menyebut jumlah pengunjung yang makin banyak merupakan salah satu bukti tingginya toleransi warga Solo. “Kita jaga bareng-bareng, pertahankan. Jangan sampai kemajemukan ini dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok atau golongan lalu terpecah belah. Mari bersatu padu dan menjaga Kota Solo bersama-sama,” tegas Rudy.

Salah satu peserta kirab, Iwan, mengaku baru kali pertama memenuhi undangan Grebeg Sudiro. Pria 30an tahun itu bersama belasan temannya menampilkan Tari Turonggo Seto. Tarian Turonggo Seto yang berarti kuda putih sendiri mengisahkan cerita pertempuran prajurit pangeran Diponegoro saat melawan pasukan kolonial di lembah Merapi-Merbabu yang menjadi salah satu wilayah basis perlawanan.

“Kami diajak untuk menampilkan kebhinekaan. Senang sekali mewakili budaya Jawa yang adiluhung berbaur dengan rekan-rekan keturunan Tionghoa,” ucap warga Kecamatan Selo, Boyolali itu, Minggu.