Longsor, Rumah Bakul Mi Ayam Sragen Terjun ke Dasar Sungai

Sebagian rumah milik pedagang mi ayam dan bakso di Dukuh/Desa Kedawung RT 011, Mondokan, Sragen, ambrol dan longsor ke dasar Sungai Kedawung, Minggu (3/2/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
03 Februari 2019 14:35 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Sebagian rumah milik Kadarusman, 70, warga di Dukuh/Desa Kedawung RT 011, Kecamatan Mondokan, Sragen, ambrol dan longsor ke dasar Sungai Kedawung sedalam 5 meter, Sabtu (2/2/2019) pukul 18.30 WIB.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut tetapi kerugian diperkirakan mencapai Rp70 juta. Sebanyak 150 orang dari unsur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan potensi search and rescue (SAR) lainnya dibantu personel TNI, Polri, dan warga bergotong-royong mengangkat sejumlah perabot dan perkakas yang tertimbun reruntuhan bangunan di pinggir sungai, Minggu (3/2/2019).

Mereka bekerja bakti mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Sejumlah perabot rumah tangga yang rusak dievakuasi di pinggir Jalan Mondokan-Sumberlawang, Sragen.

Anak bungsu Kadarusman, Kurniawan, saat ditemui wartawan di lokasi kejadian mengatakan pada pukul 16.00 WIB sudah ada retakan selebar 1 cm di lantai kamar mandi. Setelah itu terdengar suara krek-krek.

Lantai kamar mandi miring dan retakan semakin lebar pada pukul 17.00 WIB. Saat menjelang Magrib retakan lantai semakin lebar dan menjalar hingga ke lantai gudang perkakas dan kamar Kadarusman.

"Akhirnya pada pukul 18.30 WIB itu bangunan kamar mandi, gudang perkakas, dan kamar bapak ambrol dan longsor ke dasar sungai,” jelas Kurniawan.

Kurniawan tinggal satu rumah dengan Kadarusman tetapi sudah memiliki kartu keluarga (KK) sendiri. Iwan, sapaan Kurniawan, mengatakan total bangunan yang ambrol dan longsor ke dasar sungai itu sekitar 150 meter persegi.

Dia menduga ambrolnya bangunan sebagian rumahnya itu disebabkan fondasi rumah yang keropos tergerus arus air sungai. “Saat ambrol itu tidak ada orang di dalam. Kami sudah waspada dan antisipasi saat terjadi retakan. Kami tidak menyangka kalau sebagian bangunan ambrol sampai ke dasar sungai,” ujar Iwan.

Kadarusman sebenarnya sudah mencari tukang saat muncul retakan pada pukul 16.00 WIB. Ia baru mendapat tukang pada malam harinya tetapi keburu bangunannya ambrol.

Keluarga Kadarusman dan Iwan berdagang mi ayam dan bakso di samping rumahnya. Sebagian bangunan warung juga ikut rusak.

“Kerugian material sampai Rp70 juta. Saya menempati rumah ini sudah 25 tahun. Saat awal membuat fondasi juga sudah sampai padas keras di bawah tetapi kok ya masih tergerus air. Ya, mungkin sudah menjadi takdir kami untuk mengalami musibah ini,” ujar Kadarusman.

Keluarga Kadarusman tidak mengungsi pada malam itu tetapi tidur di ruang yang masih aman. Kadarusman belum terpikir bagaimana membangun kembali rumahnya.

Ia merasa terbantu dengan bantuan 30 sak semen dari BPBD dan sejumlah sembako untuk kebutuhan makan sehari-hari. “Sebelumnya ada hujan tetapi air di sungai ini tidak pernah banjir. Kemarin saat ambrol pun tidak ada hujan,” tuturnya.

Kepala Pelaksana BPBD Sragen, Sugeng Priyono, sudah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk bekerja bakti pada Minggu pagi dan menyerahkan bantuan 30 sak semen dan logistik bahan pangan.

Dia mengatakan sejak pukul 16.30 WIB ternyata septic tank sudah ambles duluan dan bak mandi tiba-tiba bocor. “Pada pukul 18.30 WIB, pemilik rumah mendengar suara gemuruh di belakang rumah. Ternyata bagian rumahnya sudah longsor ke sungai,” tuturnya.