Gara-Gara Tol Solo-Jogja, Harga Tanah Di Tempursari Klaten Meroket

Ilustrasi jalan tol Semarang/Jogja. (Solopos)
03 Februari 2019 17:15 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Harga tanah di Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten, diketahui terus meroket dalam beberapa tahun terakhir. Harga tanah itu diperkirakan akan terus naik menyusul santernya isu Tempursari jadi exit tol Solo-Jogja-Kulonprogo.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, nilai jual objek pajak (NJOP) tanah di Tempursari saat ini Rp200.000-Rp500.000 per meter persegi. Di pasaran, harga tanah itu saat ini jauh lebih tinggi dari NJOP, yakni Rp1,5 juta per meter persegi.

Kepala Desa (Kades) Tempursari, Budi Diyatmiko, saat ditemui wartawan di rumahnya, Sabtu (2/2/2019), mengungkapkan harga tanah di Tempursari dari tahun ke tahun terus meningkat.

Peningkatan paling signifikan terjadi pada 2013-2014. Saat itu mulai ada perumahan. Harga tanah mencapai Rp750.000-Rp1 juta per meter persegi, naik dari sebelum 2013 yang masih di bawah Rp500.000 per meter persegi.

"Tahun ini, harganya sudah Rp1 juta-Rp1,5 juta per meter persegi. Kemungkinan harga itu akan terus naik,” kata Budi.

Budi mengaku belum mengetahui secara detail rencana pembangunan Tol Solo-Jogja. Hingga sekarang, pemerintah desa (pemdes) belum pernah diberi sosialisasi terkait proyek yang membutuhkan lahan seluas 300 hektare dengan nilai investasi Rp22,5 triliun tersebut.

“Saya baru mengetahui Tempursari akan dijadikan exit tol dari media hari ini [Sabtu]. Sosialisasi belum pernah dilakukan sama sekali," jelas dia.

Budi mengatakan pada 2017 pernah ada tiga orang yang menyurvei tanah di perbatasan dengan Desa Manjugan, Kecamatan Ngawen. Survei itu dilakukan kurang dari 30 menit.

"Saat itu, orang yang melakukan survei mengatakan kegiatannya terkait jalan tol. Selebihnya, tidak menjelaskan apa-apa,” katanya.

Budi Diyatmiko mengatakan Pemdes Tempursari berkomitmen mendukung penuh proyek pemerintah terkait pembangunan jalan tol. Budi berharap pembangunan jalan tol itu dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan warga di Tempursari.

Desa Tempursari terdiri dari delapan dukuh, yakni Mlandang, Kadipiro, Gatak, Juwangi, Trono, Tepursari, dan Kacangan. Jumlah penduduk di Tempursari mencapai 3.800 jiwa atau 1.117 keluarga.

Dongkrak Ekonomi

“Di sini ada ada pengrajin celana dalam. Ada pula berbagai usaha makanan ringan, seperti emping. Kami berharap UMKM seperti itu memperoleh dampak positif atas dibangunnya jalan tol. Apalagi, di Tempursari akan dijadikan exit tol. Ini menjadi harapan bagi warga," kata dia.

Salah seorang warga di Tempursari, Sunarto, 52, mengaku tak tahu menahu terkait rencana pembangunan jalan tol yang melintasi daerahnya. Sebagai warga, Sunarto sangat berharap desanya kecipratan rezeki dari pembangunan tersebut.

“Belum pernah ada yang sosialisasi ke warga tentang jalan tol. Yang terpenting, pembangunan itu dapat dipahami warga dan memberikan manfaat bagi warga di sini,” katanya.

Sebelumnya, Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengatakan pembangunan Jalan Tol Solo-Jogja akan melintasi 38 desa di tujuh kecamatan di Klaten. Total lahan yang dibutuhkan guna mendukung proyek tersebut mencapai 300 hektare.

“Nanti ada exit tol di Tempursari, Ngawen, Klaten. Ini masih dikaji di exit tol dibuatkan lokasi penampungan sehingga bisa dimanfaatkan usaha kuliner dan UMKM,” katanya.