Begini Cara Pemulasaran Jenazah Pengidap HIV/AIDS di Klaten

Ilustrasi HIV - AIDS. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
04 Februari 2019 00:20 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Para penyuluh agama diminta menyebarluaskan informasi terkait HIV/AIDS serta cara pemulasaran atau merawat jenazah orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Hal itu dilakukan untuk mengurangi diskriminasi kepada para ODHA.

“Tujuan mereka mendapat sosialisasi ini bisa menyebarluaskan melalui majelis taklim sehingga semakin banyak warga yang tahu apa itu HIV/AIDS dan bagaimana cara pemulasaran jenazah ODHA,” kata Sekretaris Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kemenag Klaten, M. Zuhri, saat ditemui Solopos.com di sela-sela kegiatan sosialisasi HIV/AIDS serta pemulasaran jenazah ODHA di aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Klaten, belum lama ini.

Sosialisasi diikuti 400 peserta terdiri dari penyuluh fungsional, penyuluh agama non PNS, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta Binmas Islam.

Terkait pemulasaran jenazah, Zuhri mengakui selama ini masih ada ketakutan dari warga ketika ada ODHA meninggal dunia. “Selain takut juga malu sehingga penanganannya kadang sama sekali tidak ada yang menyentuh. Makanya, perlu diberikan informasi bagaimana untuk merawat jenazah ODHA,” urai dia.

Petugas Instalasi Keselamatan Kerja RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, Edi Widihartono, mengatakan pemulasaran jenazah ODHA tak berbeda jauh dibanding pemulasaran jenazah pada umumnya. Namun, proses perawatan jenazah ODHA sebelum dimakamkan dilakukan melalui proses dekontaminasi menggunakan klorin.

“Klorin itu bisa seperti kaporit dicampur air 12,5 liter. Kalau tidak ada, menggunakan pemutih pakaian yang mengandung klorin sebanyak 2,5 liter dicampur air 12,5 liter. Setelah itu disiramkan ke jenazah dan ditunggu 10-15 menit. Jenazah ODHA itu kan mudah membusuk. Untuk antisipasi agar kuman atau bakteri tidak ke mana-mana, jenazah dibungkus menggunakan plastik,” kata Edi.

Soal petugas pemulasaran jenazah, Edi mengatakan para petugas menggunakan alat pelindung diri seperti penutup kepala, masker, kacamata, apron, serta bot. “Sebenarnya sama dengan alat pelindung diri lainnya. Dengan cara seperti itu Insya Allah terlindungi. Selama ini juga tidak ada petugas pemulasaran jenazah ODHA tertular HIV/AIDS,” urai dia.

Pegiat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Klaten, Amin Panuntun, menjelaskan selama ini masih ada diskriminasi kepada ODHA. Selain ODHA, jenazah mereka yang akan dimakamkan juga mendapatkan diskriminasi ketika dilakukan pemulasaran. Temuan itu seperti terjadi pada 2015 lalu.

“Ada kasus pada 2015 itu di salah satu daerah ada ODHA meninggal dunia tetapi tidak ada yang berani untuk memandikan. Akhirnya memanggil petugas kesehatan dan kami untuk merawat jenazah. Namun, belakangan sudah tidak ada,” katanya.

Terkait angka kasus HIV/AIDS di Klaten, Amin menjelaskan dari pendataan sejak 2007 hingga Mei 2018 ditemukan ada 684 kasus HIV/AIDS. Dari jumlah itu, 57 ODHA meninggal dunia.