Pasar di Kalikebo Klaten Ini Hanya Buka 35 Hari Sekali

Suasana Pasar Tiban di Dukuh Kalikebo, Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Klaten, belum lama ini.(Solopos - Cahyadi Kurniawan)
04 Februari 2019 01:10 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Di Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, ada sebuah pasar yang hanya buka setiap selapanan dina atau 35 hari sekali menurut perhitungan Jawa. Orang menyebut pasar ini sebagai pasar tiban.

Pasar Tiban menempati sebuah jalan aspal sepanjang sekitar 300 meter di tepian Dukuh Kalikebo, Desa Kalikebo. Di sana, para pedang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjajakan dagangannya di bawah tenda-tenda berbentuk segitiga. Ada 100-an pedagang menjajakan banyak jenis produk mulai dari kuliner, batik, sayur-mayur, ikan, perabotan rumah tangga, minuman, hingga perhiasan.

Tak hanya itu, di pasar itu juga terdapat hiburan orkes dangdut. Pengunjung juga juga bisa mengikuti senam massal yang disediakan panitia. “Kalau pasar biasa kan sudah mainstream. Pasar ini kami kolaborasikan dengan pentas seni dan olahraga. Selain bisa dapat hiburan dan bikin sehat, pengunjung juga bisa berbelanja,” kata Penggagas Pasar Tiban, Sunarto, saat ditemui Solopos.com di sela-sela Pasar Tiban, Dukuh Kalikebo, Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, belum lama ini.

Pria yang juga menjabat Ketua Badan Koordinasi Pelaku Ekonomi Daerah (BKPED) Klaten itu menjelaskan Pasar Tiban Kalikebo hanya buka setiap Minggu Kliwon atau setiap 35 hari sekali. Jangka waktu itu dipilih dengan pertimbangan Minggu merupakan waktu semua orang libur dari rutinitas kerja. Selain itu, orang-orang bisa menabung selama 34 hari dan dibelanjakan di Pasar Tiban.

“Pedagang pasar tiban ini 50 persen dari Desa Kalikebo dan sekitarnya. Sisanya berasal dari berbagai wilayah di Klaten. Ke depan, mereka yang berjualan di sini akan membentuk komunitas,” imbuh dia.

Sunarto berpendapat, keberadaan pasar tiban akan dikembangkan ke berbagai daerah lain. Daerah tujuan itu bisa memilih waktu selain Minggu Kliwon. Dengan begitu, pedagang yang kini ada bisa berpindah-pindah sekaligus melibatkan pelaku UMKM di desa tujuan.

“Harga-harga yang dijual ini bersifat kompetitif dibanding harga pasar ada umumnya. Dengan begitu harapannya pendapatan pedagang bisa bertambah. Artinya, laba mereka bisa lebih besar. Mereka bisa lebih sejahtera,” harap dia.

Salah satu pedagang, Abdul Yani Setyawan, 30, mengaku senang bisa berualan di Pasar Tiban. Lokasinya dekat rumah membuat dia berhemat untuk urusan transportasi. Tak hanya itu, pasar tiban juga dikunjungi ratusan orang dari Kalikebo dan sekitarnya. “Saya antusias ikut ini. Pengunjungnya banyak. Saya biasanya berjualan secara dalam jaringan atau di car free day. Kali ini saya memilih di sini saja,” ujar pria, warga Dukuh Kalikebo, Desa Kalikebo.

Pria yang berjualan pakaian anak-anak produksi sendiri itu berharap Pasar Tiban bisa dikembangkan di daerah-daerah lain. Dengan begitu pedagang bisa berpindah-pindah setiap pekannya. “Jadi misalnya hari ini di Kalikebo. Pekan depan di Kemalang. Besoknya lagi di mana. Dengan begitu kita juga bisa menambah jaringan dan relasi baru,” harap dia.