Tadinya Produk Gagal, Lumpia Duleg Malah Jadi Kuliner Khas Desa di Klaten Ini

Kirab gunungan berisi 1.500 lumpia duleg di Dukuh Lemburejo, Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Klaten, Minggu (3/2/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
04 Februari 2019 21:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Daliyem, 74, bersama pejabat desa hingga kecamatan memasuki barisan kirab di tengah jalan kampung Dukuh Lemburejo, Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Klaten, Minggu (3/2/2019).

Daliyem berdiri di samping Kepala Desa (Kades) Gatak, Walino, yang membawa teplok (lampu minyak) dengan api menyala di dalamnya. Iring-iringan kirab mulai berjalan menyusuri jalan kampung sejauh 500 meter.

Di tengah barisan, gunungan setinggi 1 meter berisi 1.500 lumpia duleg diusung. Saat melewati depan masjid, iring-iringan disambut musik hadrah.

Tak jauh dari masjid, terdapat gereja yang jemaatnya menyambut iringan kirab dengan puji-pujian. Iring-iringan terus berjalan hingga sampai di depan pura disambut gemerincing lonceng yang diayunkan tokoh agama Hindu.

Kirab baru berhenti di pertigaan jalan dengan salah satu sisinya berdiri tugu lumpia duleg yang akan diresmikan. Selama kirab, Daliyem yang akrab disapa Mbah Sidal menjadi pusat perhatian.

Sesekali warga memanggil Mbah Sidal yang membawa piring berisi lumpia duleg. Siang itu, Mbah Sidal mengenakan kebaya biru dan jarit serta berjalan tanpa alas kaki di jalan cor yang panas akibat terik matahari.

Cara berdirinya tak lagi tegak. Giginya juga tak lagi utuh. Namun, Mbah Sidal bersemangat mengikuti kirab hingga bubar.

Mbah Sidal dikenal sebagai satu-satunya dari belasan pembuat lumpia duleg yang masih setia dengan gaya berjualan ala tempo dulu, berjalan tanpa alas kaki sembari menggendong tenggok, wadah dari anyaman bambu.

“Saya membuat lumpia duleg dan berjualan meneruskan usaha ibu saya. Saat itu anak saya baru satu. Sejak awal saya berjualan dengan tanpa alas kaki. Kalau pakai sandal nanti justru lengket kakinya,” kata Mbah Sidal.

Mbah Sidal saban hari membuat lumpia duleg di rumahnya sejak pukul 08.00 WIB. Mulai pukul 11.00 WIB, ia berjalan kaki menjajakan lumpia duleg hingga ke Stasiun Delanggu. Empat lumpia ia hargai Rp1.000.

“Setiap hari pasti habis bahkan kurang karena banyak yang berminat,” tutur dia.

Mbah Sidal bakal terus membuat lumpia duleg. Begitu pula dengan cara berjualannya juga bakal terus dilakukan dengan ciri khas cara berjualan ala tempo dulu.

Namun, pada Minggu (3/2/2019), Mbah Sidal libur. Ia tampil sebagai tokoh utama memimpin kirab. Begitu pula dengan belasan pembuat lumpia duleg lainnya di Lemburejo yang libur lantaran ada hajatan kampung rangkaian pergelaran budaya bertajuk Cethik Geni.

Kirab itu digelar sebagai wujud syukur warga atas warisan lumpia duleg yang menjadi ikon Dukuh Lemburejo, Desa Gatak. Lumpia duleg atau lumpia mini merupakan camilan dengan panjang 10 sentimeter dan keliling lima sentimeter.

Bahan baku membuat lumpia di antaranya tepung pati, gandum, serta bawang. Isian lumpia berupa taoge. Lumpia itu kian nikmat ketika dicelupkan pada juruh berbahan cairan gula jawa, bawang, serta berambang goreng.

Sejarah munculnya lumpia duleg sejak 1950-an. Warga yang dikenal dengan nama Mbah Karto Purno pulang kampung seusai bekerja sebagai buruh pembuat lumpia di Semarang.

Di kampung halaman, Mbah Karto mengaplikasikan resep yang ia pelajari selama bekerja. Namun, uji coba yang ia lakukan dengan bahan lokal yakni tepung pati berulang kali gagal lantaran ukuran kulit lumpia kecil.

Dari produk gagal tersebut, Mbah Karto justru menciptakan lumpia duleg yang hingga kini terus diminati. Salah satu panitia kirab, Seno Guntoro, mengungkapkan Cethik Geni baru kali pertama digelar untuk kian memoncerkan camilan khas buatan warga Lemburejo, Gatak.

Di kampung tersebut, sekitar 15 warga yang hingga kini bertahan membuat lumpia duleg secara turun temurun. Guntoro pun berharap agar lumpia duleg sebagai camilan khas produksi Gatak kian eksis.

“Untuk mengangkat ekonomi para pembuat lumpia, kami usulkan agar ada perdes [peraturan desa] yang menyatakan dalam berbagai acara hajatan, lumpia duleg menjadi camilan wajib,” kata dia.

Salah satu warga Dukuh Lemburejo, Sri Purwanti, 67, berharap selain kian moncer, bermunculan penerus pembuat lumpia. Ia mengatakan jumlah pembuat lumpia terus berkurang.

Pada 1980-an, ada 22 warga memproduksi lumpia duleg. Namun, kini jumlahnya tinggal 15 orang. “Ke depan kami yakin semakin terang. Agar ada regenerasi, ada pelatihan untuk membuat lumpia duleg,” katanya.