Nenek-Nenek Sragen Ini Terpaksa Mengungsi Setelah Rumahnya Ambruk

Siyem dan Kusno berada di rumah Siyem yang sudah rata tanah, Senin (4/2/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
05 Februari 2019 10:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Dua orang nenek-nenek duduk di teras rumah warga Dukuh Sundo Asri RT 018, Desa Banaran, Sambungmacan, Sragen, Senin (4/2/2019) siang. Salah satu orang tua itu adalah Siyem.

Perempuan lanjut usia (lansia) kelahiran Desember 1942 itu mengenakan kerudung warna krem dengan baju lengan pendek bermotif batik dan rok panjang.

Sudah lima hari ini, Siyem tak memiliki rumah. Rumahnya ambruk pada Kamis (31/1/2019) lalu. Kini, rumahnya sudah rata dengan tanah.

Tumpukan batu bata bekas reruntuhan rumahnya berserakan tak beraturan di pinggir sumur. Kerangka atap rumahnya yang berwarna cokelat kehitaman tersandar di dinding rumah tetangganya.

Sejak Kamis malam, Siyem mengungsi ke rumah anak besannya, Kusno, 49, yang berjarak 100 meter dari rumahnya yang ambruk itu. Ia hanya bisa bersabar dan berharap ada upaya warga setempat untuk membangunkan rumah untuknya.

Saat peristiwa ambruknya rumah itu, Siyem berada di dalam rumah. Ia mengetahui bila tembok rumahnya sudah retak-retak. Tanpa ada hujan dan angin, tiba-tiba dinding batu bata di sebelah rumahnya ambruk.

Dinding sebelah barat juga menyusul ambruk ke barat. “Saya hanya bisa duduk terdiam. Tubuh ini gemetar. Jangankan berlari, berjalan saja tidak mampu. Untungnya ada cucu saya dan tetangga yang menarik saya keluar rumah. Begitu sampai di luar rumah, dinding sisi timur giliran ambruk sehingga tinggal tiang-tiang penyangga atap dan dinding depan,” kisah Siyem saat berbincang dengan Solopos.com, Senin siang.

Setelah itu, ada lima orang warga yang naik ke atap untuk menurunkan genting. Saat hendak menurunkan genting itu tiba-tiba struktur atap dan tiangnya ambruk semua. Banyak genting yang remuk.

Hanya sisa-sisa reng dan usuk serta beberapa kayu belandar dan tilang yang bisa dimanfaatkan untuk membangunkan rumah lagi. Siyem tinggal sendiri di rumah buatan 1980-an itu.

Lokasi dukuhnya hanya berjarak 200 meter dari Kota Kecamatan Sambungmacan. Kendati usianya sudah mencapai 76 tahun, Siyem masih kuat bekerja sebagai buruh cuci baju.

Penghasilan dari buruh cuci baju itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Kadang-kadang ada saudara dan anak-anaknya juga memberi bantuan seadanya.

“Sepekan itu bisa dapat Rp100.000. Sudah cukup untuk makan sepekan. Kalau masak ya cari daun singkong dan melanding dibuat sayur,” tuturnya.

Banyak bantuan yang datang, seperti dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen, dan pihak lain. Warga lingkungan Dukuh Sundo Asri juga sudah membantu seikhlasnya.

Kemudian dari kelompok pengajian ibu-ibu, pengajian bapak-bapak, dan pengajian yasinan juga ikut membantu. "Dananya terkumpul di rumah Pak RT. Ya, mungkin sudah sampai Rp5 juta,” ujar Kusno, pemilik rumah yang digunakan Siyem mengungsi.

Kusno menjelaskan warga berencana bergotong-royong untuk membangunkan rumah bagi Siyem tetapi kebutuhan dananya belum cukup. Warga berharap ada para dermawan yang bisa menambah biaya untuk membangunkan rumah yang layak bagi Siyem.

“Untuk bantuan ke Kabupaten Sragen sudah diupayakan Pak Bayan,” tambahnya.