130.000 Warga Sukoharjo Belum Jadi Peserta BPJS

Logo BPJS Kesehatan
06 Februari 2019 09:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mencatat masih ada sekitar 130.000 warga Sukoharjo yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

Pemerintah mendorong agar mereka segera mendaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) agar mudah mengakses pelayanan kesehatan.

Hal ini diungkapkan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Surakarta, Agus Purwono, di sela-sela acara wayang kulit di Lapangan Desa Cangkol, Kecamatan Mojolaban, Jumat (1/2/2019) malam. Menurut Agus, tingkat kepersertaan BPJS Kesehatan di Sukoharjo mencapai 85 persen.

Persentase itu jauh di atas daerah lainnya di wilayah Soloraya. “Jadi masih ada 15 persen atau sekitar 130.000 jiwa dari total jumlah penduduk di Sukoharjo sekitar 800.000 jiwa yang belum menjadi peserta BPJS Kesehatan. Angka ini cukup tinggi dibanding daerah lainnya,” kata dia.

Menurut Agus, salah satu penyebab masih banyak warga yang belum mendaftar sebagai peserta JKN-KIS lantaran kurangnya informasi mengenai program tersebut. Terlebih, warga perdesaan. Mereka belum memahami pentingnya program JKN-KIS bagi kesehatan.

Karena itu, Agus mendorong agar warga segera mendaftar sebagai peserta JKN-KIS agar bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. “Mereka belum paham manfaat program JKN-KIS saat harus berobat ke rumah sakit. Ini yang menjadi sasaran utama untuk menggenjot tingkat kepersertaan JKN-KIS,” ujar dia.

Agus berharap pemerintah daerah ikut mendorong masyarakat di wilayah perdesaan untuk mendaftar sebagai peserta JKN-KIS. Dia selalu berkoordinasi dengan Pemkab Sukoharjo untuk mengup-date data kepesertaan JKN-KIS.

Selama ini, BPJS Kesehatan selalu menyurvei kepuasan peserta sebagai upaya memberikan pelayanan optimal. Bahkan, sudah ada aplikasi BPJS Kesehatan mobile yang bisa diunduh di Google Playstore.

Aplikasi ini memudahkan peserta mengubah data kepersetaan. “Saran dan masukan dari peserta menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan agar lebih baik.”

Sementara itu, Direktur Informasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Wiryanta, menyampaikan sosialisasi program JKN lewat pertunjukan wayang kulit dinilai lebih efektif dengan sasaran masyarakat perdesaan.

Selain hiburan rakyat, pertunjukan wayang kulit untuk nguri-uri budaya Jawa. Pemerintah bakal intensif menyosialisasikan berbagai program kegiatan kepada masyarakat.

“Kami ingin menggugah dan mengedukasi masyarakat tentang program JKN. Negara harus hadir di tengah-tengah masyarakat yang ingin mengakses pelayanan kesehatan,” kata dia.