Hanya Berjarak 5 Km, Letusan Merapi Tak Pernah Menyentuh Desa di Boyolali Ini

Guguran lava pijar keluar dari Gunung Merapi terlihat dari Deles, Klaten, Rabu (30/1 - 2019) dini hari. (Solopos/Burhan Aris Nugraha)
06 Februari 2019 09:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI--Tanggal 25 Oktober 2010 silam, Iswondo, seorang petani kopi asal Dusun Plalangan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali masih mengantarkan sejumlah turis asing ke puncak pendakian Gunung Merapi.

Hari itu, suhu udara di gunung terasa lebih panas dari biasanya. Abu tebal terlihat makin pekat. Namun pria 43 tahun itu terus saja melanjutkan perjalanan. Dia tak pernah berpikir Merapi akan mengalami letusan hebat keesokan harinya.

Sementara itu, istri dan anak-anak Iswondo sudah hampir satu pekan mengungsi. Mereka pergi ke tempat yang lebih rendah dan aman sembari berdoa Merapi tak akan muntah. Rumah keluarga Iswondo berjarak kurang dari 5 km dari puncak Merapi. “Waktu itu saya ditinggal sendirian bersama seekor ternak sapi,” ujar Iswondo saat berbincang dengan Solopos.com, di rumahnya Kamis (31/1/2019) lalu.

Senada dengan Iswondo, warga Lencoh lain, Sibun, 56, tetap memilih menjalankan aktivitas harian meskipun Gunung Merapi saat itu berstatus siaga III. Sibun tinggal sendiri di lereng Merapi sementara keluarganya mengungsi ke kawasan Boyolali kota. Hari itu Sibun lebih memilih menjaga ternak.

Gunung Bibi

Keberanian Sibun dan Iswondo tetap tinggal di tempat rawan bencana bukan tanpa alasan. Sejak dulu warga lokal Lencoh memang percaya jika letusan merapi tak akan pernah menyentuh desa mereka. “Lava gunung itu tahu jalannya,” ucap Sibun.

Kepercayaan warga ini cukup beralasan. Iswondo bercerita Desa Lencoh merupakan salah satu desa yang terlindung di balik Gunung Bibi. Gunung setinggi 2.205 meter itu berada di timur laut lereng Merapi dan berusia 400.000 tahun lebih tua dari Merapi. Gunung Bibi inilah yang melindungi Plalangan dari semburan wedhus gembel Merapi.

Di satu sisi, warga Lencoh rutin menggelar Nyadran Gunung dengan mempersembahkan nasi jagung dan ketela. Selain dipersembahkan sebagai sesaji, warga rutin berkumpul untuk berdoa bersama. “Biasanya acara sedekah gunung dilakukan tiap malam 1 Suro,” ujar Sibun.

Sementara itu, Kepala Desa Lencoh, Sumardi, tak menampik sejumlah mitos yang berkembang di masyarakat terutama soal kepercayaan terhadap keamanan desa dari letusan Merapi. “Memang selama ini [awan panas Merapi] hanya lewat,” ujar dia.

Namun hal itu tak lantas membuat warga menyepelekan keselamatan dan mitigasi kebencanaan. Pemerintah Desa tetap memprioritaskan upaya mitigasi dan penanggulangan bencana Merapi. “Biasanya akan kami alokasikan lewat Dana Desa (DD) yang besarnya sesuai kebutuhan,” ujar Kades.