Taman Baca Sekawandoso Boyolali Jadi Pusat Pemberdayaan Desa

Anak/anak Desa Krobokan, Kecamatan Juwangi, Boyolali, belajar bersama di TBM Sekawandoso. Foto diambil belum lama ini. (Istimewa)
06 Februari 2019 03:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Medio 2016 lalu, ada secercah harapan bagi anak-anak di Desa Krobokan, Kecamatan Juwangi, Boyolali, dengan lahirnya taman bacaan masyarakat (TBM) Sekawandoso. 

Taman baca ini berada di Dukuh Sidomulyo RT 014/RW 002 tak jauh dari SMPN 3 Juwangi Satu Atap dan SDN 1 Krobokan. Belasan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) asal Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang saat itu turut menginisiasi berdirinya taman bacaan ini.

Kini selepas KKN, taman bacaan dikelola secara swadaya oleh Suryati, warga desa setempat.

“Tiga tahun lalu rintisan taman baca hanya bermodal dua kardus buku,” ujar Suryati saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (24/1/2019). Mereka menyulap ruang depan rumah Suryati menjadi perpustakaan sebelum akhirnya dipindahkan ke bangunan terpisah di sisi depan. Kini, TBM Sekawandoso menempati sebuah bagunan nonpermanen berukuran sekitar 7 meter x 4 meter. 

Nama Sekawandoso berasal dari nama kelompok KKN saat itu. Desa Krobokan menjadi posko kelompok 40, kemudian tercetuslah nama Sekawandoso.  

Dua rak buku bersusun empat kini memenuhi sudut ruangan. Tak lupa tembok-tembok yang dicat warna oranye juga ditempeli aneka media belajar seperti poster kosakata Bahasa Inggris dan mengenal huruf hijaiyah. 

Donasi

Lantai TBM masih berupa tanah. Suryati menyiapkan beberapa bangku agar anak-anak nyaman membaca. Sesekali jika mereka datang berombongan, sebuah terpal yang telah disiapkan sebelumnya juga digelar sebagai alas duduk.

Saat azan Magrib menggema, belasan anak dusun berbondong-bondong datang. Mereka rutin salat berjamaah hingga mengaji bersama. 

TBM memang dikonsep multifungsi oleh Suryati. Tak cuma ruang baca, tapi juga berkegiatan bagi anak-anak. Bukunya pun macam-macam, mulai dari buku keagamaan, pengetahuan umum, dan buku pelajaran. Semua buku itu berasal dari donasi berbagai kalangan.

Setelah periode KKN berakhir, Suryati bersama sejumlah sukarelawan terus menggenjot perkembangan taman baca. Sukarelawan datang dari siswa SMA, mahasiswa, hingga kalangan akademisi di Kota Susu

Dia mengungkapkan TBM Sekawandoso kini jadi satu-satunya pusat belajar anak-anak desa. Meski demikian, usaha mengenalkan kebiasaan membaca masih terbilang sulit.

Kini dirinya membuat sejumlah terobosan lain untuk menarik minat anak-anak datang ke TBM. Di antaranya dengan memberi pelajaran menari dan permainan edukatif