Muncul Terakhir 1969, Pengamatan Penyakit Pes di Boyolali Masih Jalan Hingga Kini

Ilustrasi tikus (Shutterstock)
06 Februari 2019 05:00 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali terus melakukan surveilans atau pengamatan secara terus menerus dan sistematis terhadap penyakit pes meskipun penyakit tersebut muncul kali terakhir di Kota Susu pada 1969.

Penyakit pes adalah penyakit infeksi pada manusia dan hewan yang disebabkan bakteri Yersinia pestis. Pes disebut juga penyakit sampar, plague, atau black death. Penyakit ini ditularkan dari hewan pengerat (terutama tikus) melalui perantara kutu (flea).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Dinkes Boyolali Sherly Jeanne Kilapong mengatakan pengamatan dilakukan setiap bulan dengan cara mengambil sampel tikus selama lima hari berturut-turut.

“Melalui para kader kesehatan, sebulan sekali mereka mengambil tikus yang ditangkap dengan jebakan selama lima hari berturut-turut kemudian tikus itu diserahkan ke laboratorium untuk diambil sampel darahnya untuk diperiksa. Begitu juga dengan kutu yang ada pada hewan itu ikut diperiksa, karena penyakit ini ditularkan dari kutu itu,” ujar Sherly, saat berbincang dengan Solopos.com, belum lama ini.

Sanitasi Baik

Surveilans atau pengamatan dilakukan di daerah yang pernah terjadi kasus pes. Di Boyolali, kasus ini pernah ada di Cepogo dan Selo dan kali terakhir muncul pada 1969.

Sedangkan di Indonesia, kasus ini muncul hanya di tiga tempat yakni Boyolali, Pasuruan Jawa Timur, dan Cangkringan Sleman DIY.

“Di Sleman ini juga sebenarnya hanya daerah terancam karena lokasinya dekat dengan Selo. Di daerah terancam ini surveilans dilakukan dengan cara yang sama setiap tiga bulan sekali,” imbuhnya.

Meskipun kasus pes di Boyolali ini sudah berlalu cukup lama, namun Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengharuskan surveilans dilakukan terus menerus.

Dia berharap dengan kualitas sanitasi yang semakin baik kasus ini tidak akan muncul lagi. Namun jika ada masyarakat yang mengalami gejala-gejala penyakit ini diminta segera menghubungi dokter atau pusat pelayanan kesehatan.

“Gejalanya antara lain ada benjolan di selangkangan, ketiak, atau leher, sesak nafas, dan panas,” imbuh Sherly.