Di Solo Ada Kelenteng Pelindung Tanah Jawa

Kelenteng Poo An Kiong - Nicolous Irawan
07 Februari 2019 08:20 WIB Alifia Nur Maftukha Yuliana Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Kelenteng ini memiliki bentuk bangunan yang khas dengan bentuk atap genting yang terdapat berbagai ornamen di atasnya. Warna merah yang merupakan lambang kebahagiaan mendominasi bangunan, baik eksterior maupun interior. Sementara warna kuning yang turut menghiasi ornamen kelenteng memiliki makna ketuhanan.

Bunga sedap malam banyak ditemukan di beberapa meja dengan harapan, jemaat yang berdoa bisa introspeksi diri dan berpikir agar selalu bertindak baik agar namanya di masyarakat dapat tetap harum.

Ornamen khas Tionghoa terlihat pada atap bangunan yang memiliki bentuk cenderung melengkung ke atas dan ornamen berbentuk naga banyak terdapat di atap bangunan.

Dalam ruang peribadatan umat, terdapat beberapa altar sembahyang tempat kedudukan para Sien Beng atau para dewa yang dipuja lengkap dengan tempat lilin, tempat pembakaran dupa, dan tempat untuk menancapkan lidi hio.

Sebagaimana kelenteng lain yang memiliki dewa utama, Kelenteng Poo An Kiong memiliki dewa utama yaitu Kong Tik Tjoen Ong atau Dewa Tuan Rumah. Pada kelenteng ini juga terdapat dua pilar raksasa sebagai penyangga utama berdirinya bangunan. Pilar itu diperkirakan ada sejak awal berdirinya kelenteng.

Tan Liang Tiek alias Maryono selaku ketua pengurus Kelenteng Poo An Kiong mengungkapkan ornamen pada pilar penyangga kelenteng tersebut memiliki makna tersurat yang ditulis dalam bahasa serta huruf Mandarin.

“Ornamen pada pilar yang pertama memiliki makna ‘Sudah ribuan tahun para dewa melindungi Tanah Jawa.’ Sementara pada pilar kedua memiliki makna ‘Dengan sepenuh hati melindungi masyarakat Solo’,” kata Tan Lian Tiek, Rabu (6/2/2019). Pria asal Salatiga yang beribadah di kelenteng ini sejak 2001 dan menjadi pengurus sejak 2009 ini.

Sejak pertama didirikan, kelenteng ini belum mengalami banyak pemugaran, baik dari segi ornamen maupun interior bangunan. Perbaikan yang dilakukan hanya pengecatan ulang karena dinding dan atap kelenteng yang menghitam terkena jelaga. Sebelum pengecatan dilakukan, pengurus selalu meminta pendapat dewa untuk memberikan segala keputusan dengan melakukan doa yang disebut pak pwe dan ciam si. Dalam pak pwe, jika tangan dewa yang memberikan keputusan menutup ke bawah maka jawabannya adalah tidak. Jika membuka ke atas maka pertanyaan yang diajukan dianggap kurang jelas. Jika masing-masing telapak tangan membuka serta menutup maka jawabannya adalah iya.

Sementara ritual ciam si menggunakan angka dalam kepingan bambu untuk menentukan pilihan yang dipilih oleh dewa.

Kelenteng ini tidak memiliki bukti autentik kapan bangunan tersebut didirikan di Solo. Setidaknya, terdapat tiga versi mengenai tahun berdirinya kelenteng ini. Versi pertama, menurut para sesepuh, kelenteng dibangun pada 1818. Versi kedua, menurut pendapat dewa yang didapat melalui ritual pak pwe, kelenteng berdiri pada 1828. Versi ketiga, terdapat buku cetak yang ditulis oleh Moerthiko dan diterbitkan Sekre Empeh Wong Kam Fu pada 1980. Moerthiko  menulis Poo An Kiong berdiri pada 1881. Buku yang berjudul Riwayat Klenteng, Vihara, Lithang, Tempat Ibadah Tri Dharma Se-Jawa tersebut tidak beredar luas di masyarakat. Pihak kelenteng menyimpannya hingga sekarang.

Tanah tempat kelenteng berdiri merupakan hadiah dari keraton. Pendiri pertama bernama Tjan Kong Bok kemudian diteruskan oleh Kapten Kwik Tjien Gwan. Pada 1971, kelenteng mengalami tiga kali perbaikan dan pernah diarak tujuh hari tujuh malam keliling kota untuk memperingati ulang tahun Pee Gwee Jie Jie.

Sementara Lie Kiong Liem atau Sri Sunanti, 63, mengatakan Kelenteng Poo An Kiong berdiri di Solo lebih dari 200 tahun yang lalu. Perempuan yang tinggal di Tipes ini beribadah dan membantu membersihkan kelenteng sejak 1988. Lie Kiong Liem biasa bersepeda dari rumahnya untuk beribadah dan membantu membersihkan kelenteng dari pagi hingga malam hari.

“Kalau Imlek begini saya memilih tidur di kelenteng karena memang banyak yang harus dilakukan. Tapi kalau hari-hari biasa, hanya beberapa yang datang beribadah. Kelenteng biasa ramai pada tanggal 1 dan 15 Imlek karena selalu diadakan doa bersama pada tanggal tersebut atau biasa disebut Ce It (bulan gelap) dan Cap Go (bulan terang),” kata Lie Kiong Liem.

Kelenteng Poo An Kiong ramai sejak pertama dibangun. Zaman dulu, kelenteng biasa dibangun di dekat pusat perdagangan, pelabuhan, dan tempat ramai lainnya. Hingga saat ini, umat yang biasa berdoa di kelenteng ini tak hanya warga Solo namun juga dari luar Kota Solo. Kelenteng biasanya ramai dan dibuka 24 jam pada saat Tahun Baru Imlek, ulang tahun dewa, dan hari kebesaran yang disebut Khing Thi Kong. Pada hari-hari biasa, kelenteng hanya dibuka mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Perayaan dan ibadah lain yang biasa dilakukan di kelenteng adalah ritual Poo Un yang merupakan doa keselamatan, Fang Sen atau doa ungkapan syukur dengan melepas binatang yang biasa dikonsumsi seperti belut, burung, dan lele, kemudian sembahyang arwah guna mendoakan orang yang sudah meninggal.

Meskipun merupakan tempat ibadah Tri Dharma, kelenteng ini tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Buddha, Konghucu, dan Tao, namun terbuka untuk siapa saja tanpa memandang agama, ras, dan suku bangsanya. Tan Liang Tiek selaku ketua pengurus berharap kelenteng eksis melayani semua lapisan masyarakat karena Poo An Kiong milik semua masyarakat, bukan kelompok tertentu.