Menyimak Ritual Mandi Buddha di Kelenteng Tien Kok Sie Solo

Umat Konghucu menyiramkan air bunga pada patung Buddha Maitreya saat mengikuti ritual mandi Buddha Maitreya di Klenteng Tien Kok Sie, Pasar Gede, Solo, Senin (4/2 - 2019) malam. (Solopos/ Nicolous Irawan)
07 Februari 2019 04:17 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO - Aroma hio menguar tajam dari dalam Kelenteng Tien Kok Sie, dekat Pasar Gede, Solo, Senin (4/2/2019) malam. Belasan umat di dalamnya memegang sejumlah dupa lalu membungkukkan badan, melakukan sembahyang. Nuansa khidmat seketika terasa. Tepat pukul 22.00, tradisi mandi Buddha Rupang bermula.

Sejumlah pengelola kelenteng bersama umat mengawali ritual dengan memutari bagian dalam kelenteng membentuk angka delapan. Bagian depan barisan diisi oleh pemukul genderang untuk membuka jalan, disusul petugas pemercik air suci guna membersihkan jalan yang dilewati Sang Buddha. Selanjutnya, pembawa minyak pelita atau penerangan lantas asap wewangian cendana dan pembawa bendera.

“Minyak penerang bertujuan agar tidak ada halangan saat berjalan. Bendera adalah tanda perintah bahwa Sang Buddha mau lewat. Tepat di belakangnya masih ada dua petugas yang membawa tok-tok dan gong. Tiga kali bunyi tok-tok diikuti satu kali gong. Baru setelah itu pembawa patung Buddha,” terang bagian ritual Kelenteng Tien Kok Sie, Budiono Tek Giyanto, ditemui usai upacara mandi Buddha, Senin.

Di belakang pembawa patung Buddha, sejumlah umat mengikutinya sambil membawa bunga mawar untuk air siraman dan sekeranjang jeruk sebagai simbol berkah. Paling belakang rombongan adalah petugas yang membawa uang sembahyang. Sesudah mengelilingi kelenteng, ritual sesungguhnya baru dimulai. Patung Buddha kecil diletakkan di singgasana berhias aneka bunga. Di depan samping kanan-kiri singgasana itu tampak seember air bunga. Dua umat lalu maju ke depan, mengambil air bunga, lalu bersama-sama memandikan Sang Buddha.

“Ritual ini hanya simbolik. Arti sebenarnya adalah menyucikan diri melalui Sang Buddha sebelum pergantian tahun. Harapannya bisa suci lahir maupun batin untuk menyambut tahun baru,” kata pria yang akrab disapa Koh Tek tersebut. Lebih lanjut ia mengatakan ritual tersebut dipilih selain bermakna membersihkan diri jelang Imlek juga dibarengkan dengan hari kelahiran Sang Buddha yang tepat jatuh pada Senin itu.

Ritual penuh khidmat tersebut kontras dengan hiruk pikuk musik jelang pergantian tahun baru Imlek di deket tugu jam. Puncak Perayaan Imlek yang dibarengkan dengan Festival Grebeg Sudiro itu mengundang sejumlah pemain musik dan pertunjungan liong barongsai. Sejak selepas Maghrib, ribuan warga menyemut menikmati lantunan lagu di bawah pijar warna-warni lampion. Menjelang tengah malam, kerumunan warga baru mengendur.