Awas! Tiga Kecamatan di Sukoharjo Rawan Terjadi Tanah Longsor

Ilustrasi tanah longsor (Dok/Solopos)
07 Februari 2019 11:41 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukoharjo memetakan tiga kecamatan masuk daerah rawan longsor. Tiga kecamatan itu adalah Tawangsari, Weru dan Bulu karena secara karakteristik merupakan daerah perbukitan atau tebing.

Kepala BPBD Sukoharjo Sri Maryanto meminta warga di di sekitar perbukitan atau tebing aktif melakukan pemantauan. Apabila menemukan retakan tanah atau kerawanan tanah longsor maka diminta segera melaporkan ke petugas dan melakukan evakuasi diri. Hal itu untuk meminimalisasi terjadinya bencana alam yang bisa menimbulkan korban jiwa.

“Kondisi cuaca dalam beberapa pekan terakhir menunjukan grafik peningkatan curah hujan. Selain itu juga ditambah dengan angin kencang hampir merata disemua wilayah,” kata dia, Selasa (5/2).

Menurutnya, kondisi hujan tidak hanya menyebabkan kerawanan banjir namun juga tanah longsor. Pihaknya terus memantau secara khusus di wilayah selatan Sukoharjo meliputi Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu karena rawan longsor. Pemantauan dilakukan lantaran kontur tanah di perbukitan atau tebing sebelumnya dalam kondisi kering setelah kemarau panjang. Kemudian menjadi basah dan banyak air akibat diguyur hujan deras dalam waktu lama. Kondisi tersebut menyebabkan tanah menjadi lembek dan rawan longsor.

“Tanah-tanah dengan kondisi muncul rekahan saat musim kemarau kemarin yang diwaspadai. Karena dari rekahan itu saat musim penghujan air akan masuk dan menyebabkan tanah menjadi lembek sehingga rawan longsor,” katanya.

Dia mengatakan bencana tanah longsor belum lama ini juga terjadi di wilayah Tileng, Kecamatan Bulu. Tebing sepanjang 20 meter dan tinggi tiga meter longsor hingga menutup badan jalan. Beberapa langkah dilakukan personil BPBD bersama Babinsa di antaranya membersihkan lokasi jalan agar bisa dilalui kendaraan sepeda motor. Dia mengingatkan agar warga siap siaga dan melakukan upaya antisipasi dengan memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya. Yakni dengan mencermati tanda-tanda potensi longsor di sekitar lereng perbukitan. Beberapa tanda potensi longsor adalah munculnya retakan, munculnya rembesan atau mata air, pohon miring dan lainnya.

Secara umum, dia meminta masyarakat waspada potensi kebencanaan, terutama yang tinggal di wilayah rawan banjir, longsor dan puting beliung. “Retakan tanah itu apabila terus diguyur hujan deras maka besar kemungkinan terjadi tanah longsor. Jadi sebelum ada kejadian maka perlu dilakukan tindakan pencegahan seperti mengevakuasi warga,” lanjutnya.

BPBD Sukoharjo dalam mengantisipasi bencana alam juga mengaktifkan kembali alat komunikasi tradisional berupa kentongan atau bambu. Alat tersebut meski sudah tertinggal dibanding handphone atau komunikasi berteknologi tinggi, namun tetap masih bisa digunakan. Kentongan bisa memberi tanda bagi warga apabila terjadi banjir, tanah longsor atau bencana alam lain.

Dandim 0726/Sukoharjo Letnan Kolonel Chandra Ariyadi Prakosa sebelumnya mengatakan Kodim 0726/ Sukoharjo menyiagakan personil satu pasukan satuan setingkat kompi (SKK) di Barak Siaga selama 24 jam nonstop. Satu pasukan tersebut disiagakan selain membantu keamanan daerah sekaligus siap bergerak untuk penanganan kebencanaan. Selain menyiagakan personil, pihaknya menyiapkan berbagai peralatan penanganan kebencanaan, di antaranya perahu karet.

“Personel kami siagakan satu kompi yang on call 24 jam nonstop di Barak Siaga. Jadi begitu ada bencana banjir atau lainnya pasukan ini langsung bergerak,” kata dia.

Beberapa wilayah rawan bencana baik langganan banjir maupun tanah longsor tahunan telah dipetakan. Daerah rawan banjir dipetakan berada di aliran sungai dan anak Sungai Bengawan Solo, serta wilayah Selatan Kabupaten Sukoharjo yang merupakan kawasan perbukitan dipetakan rawan bencana tanah longsor. Daerah-daerah tersebut mendapat pengawasan ekstra selama musim penghujan ini.