4 Jam 47 Menit, Perahu Bersejarah Itu Berpindah dari Plupuh ke Taman Kota Sragen

Proses pemindahan perahu peninggalan kolonial di Dukuh Jarak RT 017, Desa Karanganyar, Plupuh, Sragen, Kamis (7/2/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
07 Februari 2019 19:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Pagi itu, Nugroho Eko Prabowo, duduk sendirian di depan pos penjagaan Taman Tirta Sari Sine, Sragen. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sragen itu duduk beralas lantai sambil mengutak-atik ponsel pintarnya.

Ia tak menghiraukan sejumlah anggota staf DLH yang berdatangan. Hari itu, Kamis (7/2/2019), Bupati Sragen dan wakilnya akan meninjau persiapan penataan taman tersebut sebagai ruang publik dan tempat wisata gratis.

“Kamu di mana? Kok enggak nunggu saya? Pokoknya perahu itu jangan diangkat kalau saya belum datang!” ujar Nugroho kepada salah satu anggota stafnya di ujung lain telepon.

Ia berusaha menghubungi anggota staf DLH lainnya untuk stand by di Taman Tirta Sari untuk meyambut kedatangan Bupati. Setelah itu, Nugroho pun bergegas ke Dukuh Jarak RT 017, Desa Karanganyar, Kecamatan Plupuh, Sragen, yang berjarak 18 km menggunakan mobil dinasnya.

perahu voc1(Solopos/Tri Rahayu)

Sejumlah warga sudah berkumpul di dukuh yang terletak di Jl. Masaran-Plupuh. Di Dukuh Jarak itulah perahu baja kuno ditemukan warga di dasar Bengawan Solo dan diangkat ke daratan pada 5 Agustus 1997 lalu.

Para pejabat dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Sragen, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen, Dinas Perhubungan (Dishub) Sragen, perangkat Kecamatan Plupuh, dan perangkat Desa Karanganyar sudah siap untuk mengevakuasi perahu yang diduga warga setempat sebagai peninggalan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada masa penjajahan Belanda.

Pukul 09.00 WIB, mobil derek dari Sragen dengan tiga orang awaknya datang. Mereka menyiapkan sejumlah peralatannya untuk menderek perahu yang diduga seberat lebih dari 5 ton.

Mobil derek tersebut berkapasitas 5 ton. Nugroho tiba di dukuh itu. Ia langsung meminta jajan pasar dan hio serta bunga mawar yang sudah disiapkan ditaruh dekat perahu.

Selembar tikar digelar di sisi barat perahu. Di tempat itulah Nugroho duduk bersila. Mulut komat-kamit membaca doa untuk keselamatan bersama sebagai awal proses evakuasi perahu buatan Eropa itu.

perahu VOC2(Solopos/Tri Rahayu)

Seusai berdoa, bunga mawar ditaburkan di salah satu ujung perahu. Setelah itu proses derek dimulai. “Ya, tadi hanya berdoa supaya semua selamat. Itu saja,” ujar Nugroho.

Tiga orang awak derek berjibaku menarik perahu dari kebun yang menjorok ke sungai Bengawan Solo sedalam 2 meter. Perahu sepanjang 8,9 meter, lebar 2,26 meter, dan tinggi 95 cm itu ditarik menggunakan truk derek.

Evakuasi dimulai pukul 09.18 WIB. Dengan usaha keras, perahu berhasil ditarik ke halaman rumah Sumarno, 79, pada pukul 10.48. Dari halaman rumah itu ditarik lagi ke jalan kampung yang sudah berupa cor beton pada pukul 11.06 WIB.

“Saya khawatir besi dasar perahu itu tidak kuat karena sudah berkarat begitu,” kata Nugroho saat berbincang dengan Koordinator TACB Sragen, Andjarwati Sri Sajekti.

Andjar pun memiliki penilaian yang sama. Saat di angkat ke jalan cor, ia juga khawatir ada material perahu di bagian bawah yang tergerus bekas material tembok pada jalan penghubung halaman rumah Sumarno dan jalan cor.

“Nah, apa saya bilang tadi. Ini materialnya kena akibatnya bagian bawah perahu tambah bolongnya,” ujarnya.

Di jalan buntu itulah ketiga awak derek memasang alat besi dan roda di bagian ujung belakang perahu. Sementara di bagian ujung depan perahu diangkat dengan rantai derek. Dengan posisi itu perahu dibawa ke Taman Tirta Sari Sragen.

Andjar sudah melakukan kajian terhadap perahu itu. Ia menduga perahu itu bukan perahu VOC karena perahu VOC itu bukan dari baja melainkan kayu. Dia menduga perahu itu merupakan perahu tentara pada zaman kolonial Belanda atau Jepang.

“Produk perahu baja dengan teknologi keling itu buatan Eropa. Tahun pembuatannya 1840-1940. Soal temuan uang logam VOC itu mungkin uang yang dibawa para awak perahunya,” ujarnya.

Kasi Sejarah dan Tradisi Disdikbud Sragen, Johny Adhi Aryawan, mendapat referensi mata uang VOC buatan 1790 itu pernah dicetak ulang pada 1805. Jumlah mata uang VOC itu banyak dan menyebar sebagai alat tukar perdagangan pada masa itu.

Selain itu sudah ada mata uang Jawa dan mata uang Belanda atau Gulden. Di sela-sela evakuasi perahu itu ada keharuan yang dirasakan Sumarno, pemilik kebun tempat perahu itu selama ini berada.

Ada tiga pohon miliknya yang ditebang untuk memudahkan jalannya perahu itu saat diderek. Istri Sumarno kukuh meminta ganti rugi Rp500.000 untuk tiga pohon itu.

(Solopos/Tri Rahayu)

Sampai evakuasi dilakukan, Sumarno baru menerima Rp100.000 dari Pemerintah Desa Karanganyar. “Saya sebenarnya sudah ikhlas tapi simbah putri itu tidak rela. Tadi sempat memasang patok agar perahu tidak dievakuasi sebelum diberi ganti rugi. Akhirnya, simbah bisa mengerti dikondisinya,” ujarnya.

Soal ganti rugi itu sudah dipikirkan DLH yang berkoordinasi dengan Camat Plupuh. Pukul 14.05 WIB, perahu baja itu akhirnya tiba di Taman Tirta Sari Sragen, kawasa Sine, Kecamatan Sragen .

Perahu diletakkan di pinggir embung di taman itu. DLH sudah menyiapkan lokasi untuk perahu peninggalan kolonial itu di ujung barat embung.

Dermaga perahu itu masih proses persiapan pembuatan. Di lokasi itulah wahana swafoto dibuat sebagai ikon baru di Taman Tirta Sari Sragen.