Sebelum Ada Rencana Jalan Tol, Harga Tanah di Ngawen Klaten Segini

Aktivitas pembangunan jalan tol Trans Jawa ruas Semarang/Solo. (Bisnis/Wahyu Sulistiyawan)
07 Februari 2019 09:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Kepala Desa Senden, Kecamatan Ngawen, Klaten, Triyono, mengatakan hingga kini pemerintah desa setempat belum didatangi atau dilapori warga terkait broker yang mencari informasi lahan terdampak tol.

Ia membenarkan pada 2018 lalu ada tim dari Jakarta yang mengaku berasal dari tim pemetaan lahan untuk jalan tol sembari membawa hasil foto satelit wilayah Senden. “Setelah itu tidak ada kabar lagi. Sampai saat ini warga juga adem ayem. Belum banyak yang membicarakan soal itu,” kata Triyono saat dihubungi Solopos.com, Selasa (5/2/2019).

Soal harga tanah, Triyono mengatakan selama ini harga tanah di wilayah Senden sudah tinggi. Ia mencontohkan untuk sawah seluas 2.000 meter persegi, harganya sudah mencapai Rp500 juta. Sementara, lahan permukiman di tepi jalan harga tanahnya sudah mencapai Rp1 juta per meter persegi. “Sebelum ada kabar soal tol harganya sudah tinggi,” jelas dia.

Kepala Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Budi Dyatmoko, mengatakan selama ini sudah ada orang yang berdatangan ke Tempursari menanyakan harga tanah. “Tetapi yang datang menanyakan tanah hubungannya terdampak tol belum ada. Mudah-mudahan tidak ada broker yang masuk,” ungkapnya.

Soal harga tanah, Budi menyampaikan di wilayah Tempursari selama setahun terakhir sudah mengalami kenaikan. Harga tanah itu terutama yang berada di tepi jalan raya sudah senilai Rp1,5 juta per meter persegi dari sebelumnya di bawah Rp750.000 per meter persegi.

“Kenaikan itu sebelum ada kabar jalan tol. Karena juga ada perubahan zona. Lahan di tepi jalan itu sudah menjadi zona kuning dari sebelumnya zona hijau,” tutur dia.