Ini Alasan Siswa di Solo Pilih Ojol daripada Angkot

Ilustrasi ojek online (go/jek.com)
08 Februari 2019 08:30 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO - Siswa SMAN 4 Solo, Andita Pertiwi, menyebut naik moda angkutan umum malah menghabiskan banyak waktu di jalan. “Naik transportasi umum memang murah, tapi transportasi umum tidak langsung mengantarkan ke sekolah langsung. Harus berhenti dahulu mencari penumpang lainnya. Belum lagi, kadang supir aangkutan kota [angkot] saat mengemudikan ugal – ugalan,” ujar Andita saat ditemui Solopos.com di gerbang masuk SMAN 4 Solo, Kamis (7/2/2019).

Ia menyukai menggunakan transportasi berbasis online. “Menggunakan ojek online kita tinggal duduk di dalam rumah lalu ojek datang. Orang tua saya lebih merasa aman jika saya pulang menggunakan transportasi berbasis online,” ujar Andita.

Hal sama dikatakan siswa SMP Batik Solo, Naufal Akbar. Naufal mengatakan waktu tempuh transportasi umum tidak menentu. “Saya masuk sekolah pukul 07.00 WIB. Saya berangkat dari rumah pukul 05.45 WIB, apakah saya bisa sampai sekolah sebelum pukul 07.00 WIB. Terkadang transportasi umum belum bisa mematok waktu tempuh dari lokasi ke lokasi lainnya,” ujar Naufal ya saat ditemui Solopos.com di gerbang masuk SMP Batik Solo.

Ia mengaku tarif angkutan berbasis  online sebanding dengan keamanan. Selain itu, siswa bisa memprediksi waktu tempuhnya. “Kalau naik ojek online itu saya bisa memprediksi waktu tempuh dari rumah ke sekolah. Tarif dari rumah saya ke sekolah hanya Rp7.000,” ujar Naufal.

Pengemudi angkot, Darman, mengaku banyak pelanggan yang beralih memanfaatkan layanan ojek online maupun taksi online. “ Pelajar sekolah dulu jadi sasaran angkot. Orang-orang yang bisa pegang smartphone rata-rata ya pindah pilih ojek online atau taksi online karena mudah. Tinggal klik, sopir datang menghampiri,” ujar Darman saat ditemui Solopos.com di Terminal Tirtonadi Solo.

Ia bercerita dua tahun lalu, Darman bisa membawa pulang uang bersih Rp180.000/hari. Sekarang, Darman kesulitan mendapatkan penghasilan bersih Rp80.000/hari. Ia berharap pemerintah memperhatikan nasib pengemudi angkot. “Saya ingin pemerintah memberikan subsidi dana untuk operasional angkutan. Kami terus bertahan karena tidak ada pekerjaan lain. Jika ada kesempatan mungkin saya dan teman-teman sudah meninggalkan pekerjaan ini [menjadi sopir angkuta],” jelas ujar Darman.

Dalam penyediaan angkutan umum, Dinas Perhubungan Kabupaten Klaten menyiapkan 15 bus sekolah untuk melayani pelajar. Sedangkan Dinas Perhubungan Kota Solo menyerahkan pengoperasian Batik Solo Trans (BST) kepada PT BST setelah kontrak dengan Damri habis. Pemkot Solo hingga kini belum menyediakan bus sekolah.