Dicecar 57 Pertanyaan oleh Polisi Solo, Ini Tanggapan Ketum PA 212 Slamet Maarif

Slamet Maarif mengacungkan jari telunjuk dan ibu jarinya saat berjalan menuju ruang penyidik Satreskrim Polresta Surakarta, Kamis (7/2/2019). (Solopos - Kurniawan)
08 Februari 2019 12:15 WIB Kurniawan Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Maarif, diperiksa sekitar lima jam oleh aparat Satreskrim Polresta Surakarta terkait dugaan pelanggaran kampanye saat Tablig Akbar 212 di Solo, Kamis (7/2/2019).

Pantauan Solopos.com, Slamet tiba di Mapolresta Surakarta pukul 10.20 WIB didampingi Ketua Penasihat PA 212 yang juga tokoh Muhammadiyah, Amien Rais. Slamet didampingi pengacara langsung menjalani pemeriksaan hingga pukul 16.30 WIB.

Selama pemeriksaan itu Slamet hanya sekali izin menghentikan sementara penyidikan untuk Salat Zuhur yang dijamak dengan Salat Asar. Pukul 12.39 WIB Slamet kembali menjalani pemeriksaan hingga pukul 16.30 WIB.

Saat diwawancarai wartawan seusai pemeriksaan, Slamet mengaku mendapat 57 pertanyaan dari penyidik. Pertanyaan seputar organisasi PA 212 dan isi ceramah yang disampaikan Slamet saat kegiatan Tablig Akbar 212 di Bundaran Gladak, Minggu (13/1/2019) lalu.

“Ada 57 pertanyaan dari penyidik, saya jawab satu per satu. Saya hadir sebagai Ketua PA 212 dan atas nama mubalig atau ulama yang diundang. Saya sampaikan juga tentang isi dari beberapa tausiah atau ceramah saya,” ujar dia.

Slamet menyatakan dirinya tak berkampanye lantaran tak menyampaikan visi misi atau program pasangan calon capres cawapres mana pun. “Kalau dikaitkan UU Pemilu tentang pengertian kampanye, saya tak kampanye,” kata dia.

Slamet menjelaskan saat pemeriksaan penyidik sempat memutar rekaman video ceramahnya di depan massa. Penyidik menanyakan maksud dari beberapa kalimat yang disampaikan Slamet. Tapi menurut Slamet pernyataannya jelas.

“Kalimat saya tidak beda jauh dari apa yang saya sampaikan. Kalimat itu bisa dicerna bisa dipahami siapa pun. Sidak menyebutkan nama paslon mana pun,” imbuh dia.

Slamet sempat menyampaikan beberapa kasus serupa ke penyidik. Salah satunya dugaan pelanggaran kampanye di luar jadwal paslon Jokowi-Ma’ruf Amin yang dihentikan lantaran belum ada jadwal resmi kampanye.

“PSI juga di-SP3 kan karena belum ada jadwal waktu tempat baku dari KPU,” urai dia.