Dipindah ke Taman Kota Sragen, Perahu Zaman Kolonial Tambah Rusak

Sekda Sragen Tatag Prabawanto melihat kondisi dasar perahu peninggalan zaman kolonial yang rusak pascaevakuasi di Taman Tirta Sari Sine, Sragen, Jumat (8/2/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
09 Februari 2019 08:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Puluhan aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Sragen, Jumat (8/2/2019) pagi, memenuhi seputaran Taman Tirta Sari, Sine, Sragen. Di antara mereka tampak Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati yang mandi peluh seusai senam bersama.

Dia berjalan-jalan di jalan berpaving di pinggir embung taman itu. Perahu usang dan berkarat teronggok di pinggir jalan berpaving di sebelah utara embung.

Perahu peninggalan kolonial Belanda yang baru dievakuasi dari Dukuh Jarak RT 017, Desa Karanganyar, Plupuh, Sragen, Kamis (7/2/2019) itu menjadi perhatian Bupati Yuni.

Ia melihat-lihat kondisi perahu yang bagian bawahnya rusak karena proses evakuasi. Perahu baja yang diduga buatan Eropa pada masa kolonial itu harus dikonservasi dulu sebelum ditata sebagai wahana berswafoto.

Sejumlah pejabat eselon II yang mengikuti Yuni, sapaan Bupati, juga tertarik dengan perahu itu. Bahkan Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Sragen Suharjo meminta salah satu ASN untuk memotret dirinya dengan latar belakang perahu.

“Perahunya biar di sini saja. Tempatnya sudah pas di sini tidak perlu dipindah lagi,” seru Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen Tatag Prabawanto yang datang belakangan.

Seruan Tatag mengejutkan Yuni. “Kalau di sini, buatkan gambar untuk landasan perahu yang tepat! Biar nanti Bidang Kebudayaan mencari tahu sejarah perahu ini dibuat tahun berapa. Nah, nanti perahu ini direstorasi dan disesuaikan dengan bentuk aslinya,” ujar Yuni menanggapi usulan Sekda.

“Ya, nanti dikasih landangan kecil saja yang penting tidak kena tanah,” jawab Tatag.

Sekda langsung naik ke perahu. Ia mengecek kondisi dasar perahu yang keropos dan banyak lubang. Ia mengusulkan menambal lubang-lubang itu atau mengganti dasarannya dengan pelat besi.

Seusai melihat-lihat kondisi dalam perahu, Tatag pun minta difoto dengan gayanya seperti remaja baru gede sambil berkelakar. Melihat gaya Sekda, Yuni memilih duduk istirahat di kursi permanen yang terbuat dari tembok.

Cat pada tempat duduk di pinggir embung itu sudah usang. Yuni mengalihkan perhatian dari perahu. “Ayo mulai mengecat kursi-kursi ini!” ujar Yuni.

Mendengar ajakan Bupati, para ASN dari Bagian Umum yang sejak tadi membopong kardus berisi cat kaleng langsung bersiap. Kardus itu diturunkan dan dibuka. Mereka pun mulai mengecat.

Balkon Borobudur

Sementara itu, Balai Konservasi (Balkon) Borobudur Magelang bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Sragen mengambil sampel serpihan material perahu peninggalan kolonial yang kini ditempatkan di Taman Tirta Sari Sragen, Jumat.

Pengambilan sampel material perahu itu akan diuji kandungannya di laboratorium Balkon Borobudur Magelang sebelum mereka melakukan konservasi terhadap perahu berumur seratusan tahun itu.

Pengambilan sampel dilakukan dua orang konservator dari Balkon Borobudur dan didampingi Koordinator TACB Sragen Andjarwati Sri Sajekti dan Kasi Sejarah dan Tradisi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen Johny Adhi Aryawan.

Mereka menyayangkan kondisi perahu yang rusak pascaevakuasi dari Dukuh Jarak RT 017, Desa Karanganyar, Plupuh, Sragen, Kamis lalu. Mereka tak bisa berbuat banyak saat evakuasi karena wewenangnya ada di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sragen.

“Kami memaklumi proses evakuasi memang bukan dilakukan oleh orang-orang yang mengetahui perlakuan terhadap benda cagar budaya. Mereka kemarin sudah bekerja keras untuk memindahkan perahu itu dari Plupuh ke Sragen. Kondisi dasar perahu memah rapuh karena terpendam tanah sejak 1997 dan sebelumnya tertimbun pasir di dasar Bengawan Solo sejak zaman kolonial,” ujar Andjarwati saat berbincang dengan Solopos.com seusai dari Taman Tirta Sari Sragen, Jumat siang.

Andjar menjelaskan hasil uji laboaratorium terhadap sampel serpihan yang terlepas dari perahu itu menjadi dasar Balkon dan TACB untuk melakukan langkah konservasi yang seperti apa.

Dalam konservasi nanti, Andjar berencana melibatkan para pegiat komunitas Sragen Jadoel dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah.

“Dasar perahu yang rusak memungkinkan untuk ditambal. Kemudian untuk melindungi dari hujan, ke depan dikasih selter, dan didesain seperti aslinya dulu. Semua perencanaan kami siapkan untuk disampaikan ke Bupati,” tuturnya.