Harga Jatuh, Petani Sragen Tawarkan Petik Cabai Gratis di Sawah

Sukirman (kanan) dan Sugiman menuangkan cabai merah ke dalam sak bekas wadah pupuk saat panen cabai di sawahnya di Dukuh Bendungan RT 016, Desa Pilangsari, Ngrampal, Sragen, Jumat (8/2 - 2019). (Solopos/Tri Rahayu)
09 Februari 2019 12:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Kalangan petani lombok di Kabupaten Sragen merugi karena harga cabai di pasaran jatuh pada musim panen saat ini. Petani bahkan mempersilakan tetangga atau warga lain yang membutuhkan cabai untuk memetiknya sendiri secara gratis di sawah.

“Saat habis tanam harga cabai bisa Rp12.000/kg. Sejak sepekan lalu, saya panen. Harga cabai hijau saja hanya laku Rp2.500/kg di Pasar Bunder. Kalau cabai merah harganya hanya Rp3.000/kg," kata Sukirman, 45, petani cabai di Dukuh Bendungan RT 016, Desa Pilangsari, Ngrampal, Sragen. saat berbincang dengan solopos.com dan Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen Suratno di sawah Pilangsari, Jumat (8/2/2019) siang.

"Saya sampai cari bakul-bakul lainnya. Harga penawaran tertingginya untuk cabai besar hijau Rp3.000/kg dan cabai besar merah Rp4.000/kg,” tambah dia

Sukir, panggilan akrabnya, sampai berkeliling ke warung-warung di kampung atau desa-desa untuk menawarkan cabai hasil panennya. Ia berhasil mendapat harga Rp5.000/kg tetapi permintaannya sedikit.

Ia menawarkan kepada tetangga atau petani di lingkungan Desa Pilangsari untuk memetik cabai itu secara gratis kalau hanya untuk membuat sambal di rumah.

Mangga [silakan], Pakde, Mbokde! Menawi ngersake lombok [kalau membutuhkan cabai], silakan petik sendiri gratis. Tawaran seperti itu saja jawabnya masih tak mengenakkan. Walah beli Rp2.000 saja sudah sakumbruk [banyak]. Begitu jawabnya. Iya, kalau memetik kan harus kena lumpur. Kalau beli kan murah dapatnya banyak,” ujarnya.

Sukirman menghitung produksinya sudah mencapai Rp8 juta-Rp9 juta. Namun sepekan terakhir, Sukir baru bisa mendapatkan pemasukan Rp1,6 juta. Ia sadar untuk mengejar biaya produksinya saja sangat berat. Ia hanya bisa berusaha menjual cabai semampunya.

“Yang penting anak minta jajan masih bisa memberi uang. Keluarga mau makan masih bisa beli. Begitu saja. Daripada saya pikir panjang,” katanya.

Sugiman, 63, petani asal Demakan RT 009, Pilangsari, Sragen, yang datang membantu Sukir memetik lombok mengaku juga sempat menanam cabai hampir bersamaan dengan Sukir. Namun tanaman cabai milik Sugiman tak sebanyak milik Sukir sehingga kerugian Sugiman kurang dari Rp1 juta.

“Pokoknya petani cabai musim ini menjerit dan menangis. Di sebelah selatan itu dianggurkan ga dipetik karena diserang hama. Kasihan, sudah harga jatuh, tanamannya diserang hama lagi. Beginilah nasib petani,” tuturnya.