Keindahan Bukit Lempuyangan Boyolali Mujarab Atasi Galau

Jembatan bambu di atas kebun stroberi di Bukit Lempuyangan Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali. (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
09 Februari 2019 09:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI--Mendiami lereng Gunung Merapi dengan ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut membuat Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali memiliki banyak potensi alam.

Tanah pegunungan cocok bagi komoditas pertanian, sementara pemandangan alam yang indah dari Gunung Merapi dan Merbabu membuat desa ini menyimpan daya tarik pariwisata.

Pemerintah Desa Lencoh bersama warga setempat menginisiasi gerakan pariwisata berbasis masyarakat lewat objek wisata Bukit Lempuyangan. Bukit Lempuyangan mulai berkembang sejak tiga tahun silam dengan memadukan konsep pariwisata dan pertanian.

Warga secara swadaya menyulap 1.500-an m2 lahan kosong di pinggir jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB) dengan pemandangan apik puncak Gunung Merapi. Mereka memanfaatkan material bambu untuk membangun dua buah gazebo di bukit. Gazebo tersebut dilengkapi dengan atap jerami. Menuju gazebo, pengunjung mesti melintasi jembatan yang juga terbuat dari bambu.

Jembatan sepanjang 200 meter itu dibangun di atas kebun stroberi yang dikelola secara swadaya masyarakat. “Kebun ini jadi satu paket wisata dengan gazebo,” ujar Kepala Desa Lencoh, Sumardi, ketika berbincang dengan Solopos.com, di kantornya, pekan lalu.

Pengunjung Bukit Lempuyangan dikenai biaya Rp5.000 per orang sekali masuk. Selain memetik buah stroberi, di Bukit Lempuyangan mereka memanfaatkan gazebo dan pemandangan untuk berswafoto.

Cuaca

Pendapatan yang diperoleh dari objek wisata Bukit Lempuyangan ini sebagian diberikan kepada warga. Alokasinya 10%. Sementara yang lain dipakai kembali untuk biaya sewa lahan dan perawatan. “Dalam satu bulan penghasilan dari objek wisata bisa mencapai Rp5 juta-Rp6 juta,” kata Kades.

Meski begitu, pengelolaan objek wisata diakui Kades belum optimal. Kendala utama berasal dari cuaca terutama di musim hujan. “Namun kondisi ini menjadi kendala bagi semua objek wisata alam terbuka,” imbuh dia.