Begini Skenario BPBD Klaten Jika Status Merapi Meningkat

Guguran lava pijar keluar dari Gunung Merapi terlihat dari Deles, Klaten, Rabu (30/1 - 2019) dini hari. (Solopos/Burhan Aris Nugraha)
09 Februari 2019 18:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten mempersiapkan sejumlah skenario jika status aktivitas Gunung Merapi meningkat.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Dhody Hermanu, mengatakan luncuran awan panas yang mengarah ke Kali Gendol, Sleman, DIY, pada Kamis pukul 18.28 WIB merupakan guguran terpanjang sejak status aktivitas Merapi level waspada pada 21 Mei 2018 lalu. Namun, guguran tersebut tak sampai membuat warga panik.

Hal itu berdasarkan hasil pantauan dari tim BPBD Klaten yang mendatangi wilayah kawasan rawan bencana (KRB) III pada Kamis malam. Warga masih melakukan aktivitas seperti biasa termasuk ronda yang saban malam dilakukan warga.

Dhody menambahkan BPPTKG masih menyatakan status Merapi pada level waspada. Warga diminta tetap mematuhi rekomendasi salah satunya yakni radius 3 km dari puncak Merapi steril dari aktivitas penduduk.

Terkait luncuran awan panas yang mendekati radius steril aktivitas penduduk, Dhody menjelaskan BPBD sudah menggandeng sukarelawan lokal yang ada di masing-masing desa guna terus mengimbau warga mematuhi rekomendasi tersebut. Selain itu, kunjungan BPBD ke wilayah KRB III kian intensif.

“Sepekan tiga kali ada personel yang mendatangi desa-desa di wilayah di atas untuk sekadar silaturahmi dengan warga yang sedang ronda juga koordinasi dengan sukarelawan yang ada di desa,” jelas Dhody kepada wartawan di BPBD Klaten, Jumat (8/2/2019).

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten, Nur Tjahjono Suharto, mengatakan skenario jika status aktivitas Merapi ditingkatkan sudah disiapkan. Klaster penanganan erupsi Merapi sudah dibentuk dengan bidang kerja masing-masing. Desa penerima dalam konsep desa paseduluran juga mulai melakukan pendataan untuk mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu pengungsi berdatangan.

Nur menegaskan selama status Merapi belum ditingkatkan pemkab tak bakal mengambil langkah apa pun. Aktivitas BPBD Klaten selama ini sebatas koordinasi dan persiapan jika status Merapi dinaikkan. Hal itu dilakukan untuk menjaga ketenangan warga.

Nur menjelaskan BPBD tetap berpatokan pada informasi resmi soal perkembangan aktivitas hingga rekomendasi dari BPPTKG. “Jangan sampai warga yang selama ini tetap tenang justru terganggu dan membuat warga panik. Ketika status siaga, sesuai dengan rencana kontinjensi, baru dilakukan pengungsian penduduk terutama kelompok rentan,” tutur dia.

Terkait jalur evakuasi, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten, Sri Yuwana Haris Yulianta, mengatakan sudah ada skenario jalur evakuasi mandiri.

Skenario jalur evakuasi itu dibuat untuk proses evakuasi mandiri bagi warga yang tinggal di tiga desa terdekat puncak Merapi yakni Desa Balerante, Desa Sidorejo, dan Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang.

Haris menambahkan ada jalur evakuasi alternatif yang disiapkan lantaran jalur evakuasi utama rusak parah. Pembuatan jalur evakuasi alternatif itu dibuat warga dengan sepengatahuan kepala desa dan bakal disepakati secara bersama.

Skenario tiga jalur alternatif itu ditargetkan bisa disepakati dan dilegalkan pada Februari. Selain itu, sukarelawan, TNI, dan polri akan memetakan persimpangan yang harus dijaga di jalur tersebut.

“Dari tiga jalur evakuasi itu, jalur evakuasi alternatif ada di Desa Tegalmulyo. Jalurnya melalui poros desa. Untuk Sidorejo dan Belarante tetap melewati jalur evakuasi utama,” kata Haris.

Sementara itu, warga di wilayah lereng Merapi masih beraktivitas seperti biasa meski pada Kamis petang ada luncuran awan panas mengarah ke Kali Gendol. Seperti aktivitas warga Desa Balerante, Kecamatan Kemalang yang tetap melakukan aktivitas mereka sehari-hari seperti mencari pakan ternak.

Salah satu warga Dukuh Gondang, Agus Sarnyata, mengatakan warga tetap tenang dan tidak panik saat luncuran awan panas sepanjang 2 km terjadi pada Kamis petang. Selama ini, warga juga sudah mulai meningkatkan kewaspadaan mereka untuk tidak beraktivitas pada radius 3 km dari puncak Merapi terutama saat mencari pakan ternak.

Wilayah terdekat puncak Merapi di Balerante berjarak sekitar 4,5 km dari puncak seperti Dukuh Sambungrejo. “Warga selama ini tidak ada masalah. Begitu pula kemarin saat ada guguran warga tidak panik, biasa saja. Tidak seperti saat terjadi freatik dulu,” kata Koordinator Posko Induk Balerante tersebut.

Soal gemuruh dari puncak, Agus tak menampik selama ini warga sering mendengar terutama saat terjadi guguran. Namun, suara itu tak sampai membuat warga panik.

“Terutama kemarin [Kamis] itu mulai pukul 06.00 WIB hingga 22.00 WIB sering terdengar gemuruh. Namun, warga biasa saja karena sudah terbiasa dengan kondisi itu,” kata Agus saat ditemui di rumahnya.