Harga Tanah di Pogog Wonogiri Naik Berlipat Berkat Durian

Petani memeriksa buah durian di tegalan miliknya Dusun Pogog, Desa Tengger, Puhpelem, Wonogiri, Rabu (6/2/2019). (Solopos - Cahyadi Kurniawan)
09 Februari 2019 20:00 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Dusun Pogog, Desa Tengger, Puhpelem, Wonogiri, belakangan terkenal berkat buah duriannya. Tapi siapa sangka, hasil hortikultura itu ternyata ikut mendongkrak harga tanah di kawasan itu.

Selama bertahun-tahun, harga tanah di Pogog stagnan lantaran kondisinya perbukitan dan jauh dari kota. Semua itu berubah pada 2014 atau setahun setelah panen perdana durian pada 2013.

Ada seorang juragan batik asal Wonogiri membeli tanah seluas sekitar 1.500 meter persegi berisi pohon durian siap berbuah. Ia menawarkan harga Rp500 juta kepada pemilik lahan.

Namun, petani pemilik tanah itu tak melepaskannya. Bahkan, meski juragan batik itu menaikkan penawarannya menjadi Rp600 juta, si petani tak juga mau melepasnya. Padahal, harga pasaran tanahnya saat itu berkisar Rp100 juta.

“Saya tak menyangka ada potensi liar terjadi. Semacam potensi yang tak pernah kami petakan sebelumnya. Dari desa yang nothing menjadi something bernama Desa Wisata Pogog. Dari durian saja ternyata bisa mendongkrak harga tanah di sini,” kata inisiator Desa Wisata Pogog, Jumali Wahyono Perwito yang akrab disapa Mas Jiwo Pogog saat berbincang dengan Solopos.com di Dusun Pogog, Desa Tengger, Puhpelem, Rabu (6/2/2019).

Sejak itulah, petani durian di Pogog diminta tidak menjual tanah mereka. Jiwo ingin warga Pogog tetap menjadi raja di tanahnya sendiri. Selain itu, jika sekali petani menjual tanahnya, ia tak mungkin lagi mampu membeli tanah itu kembali.

Kenaikan harga tanah itu tak lepas dari manisnya bisnis durian Pogog yang dikembangkan di dusun setempat. Ketua Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Mulyo Pogog, Rimo, menerangkan dari satu pohon setidaknya menghasilkan 21 butir durian.

Ukuran buah itu bervariasi. Namun, jika dipukul rata oleh penebas, petani biasa mendapat Rp1,25 juta per pohon.

Oleh Kelompok Tani, durian itu tak dijual dengan sistem tebas melainkan ditimbang per kilogram. Harga satu kilogram durian Pogog dipatok Rp45.000, lebih murah ketimbang membeli di mal atau supermarket yang mencapai Rp60.000-Rp70.000 per kilogram.

Tak hanya itu, buah dijual melalui satu pintu agar memudahkan petani dan mengantisipasi persaingan harga. “Sekarang, paling minim, satu pohon bisa menghasilkan Rp2 juta. Bahkan bisa lebih. Itu baru satu pohon. Di sini rata-rata petani punya minimal lima pohon. Ada yang sampai 40 pohon bahkan 80 pohon,” kata dia.

Kini, di Pogog ada ribuan pohon durian yang ditanam secara mandiri oleh petani. Tahun ini, setidaknya ada 500-an pohon yang berbuah dan diprediksi habis pada April mendatang.

Tak heran, jika populasi durian itu menjadi salah satu pendongkrak harga tanah di desa berjarak 105 kilometer dari Kota Solo itu. “Dengan adanya durian, harga tanah naik dua kali lipat bahkan lebih. Kalau posisi strategis bisa tiga kali lipat. Misalnya, kalau sebelum ada durian harganya Rp100.000 kini menjadi Rp500.000-Rp600.000 per meter persegi,” beber Rimo.

Petani durian lain, Triyono, 40, menceritakan tahun lalu, enam pohon dari total 30 pohon durian miliknya berbuah. Dari jumlah itu, ia bisa mendapatkan penghasilan hampir Rp15 juta.

Uang itu pun bisa diambil untuk mengambil sertifikat tanahnya yang sempat digadaikan untuk membiayai pernikahan putranya. “Mungkin karena Pogog punya nama, harga tanah jadi ikutan naik. Durian di sini memang bagus-bagus. Sedulur-sedulur Pogog juga diminta tidak menjual tanahnya. Kalau berani jual tanah, dia enggak bisa beli tanah lagi,” tutur Triyono.