Kasus DBD Sragen Tertinggi Se-Jateng

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati (ketiga dari kanan), memberikan sosialisasi tentang pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di permukiman warga di Kroyo, Kecamatan Karangmalang, Sragen, Minggu (10/2 - 2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
10 Februari 2019 13:30 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Jumlah laporan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sragen selama Januari 2019 menduduki peringkat pertama di Jawa Tengah.

“Laporan yang masuk dari tanggal 1-31 Januari itu ada 708 kasus. Tapi, yang terverifikasi positif DBD itu hanya 200-an. Dari segi jumlah laporan masuk, Sragen tertinggi di Jateng. Jumlah pasien yang positif DBD pun juga tertinggi di Jateng,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Hargiyanto, saat ditemui Solopos.com di sela-sela kegiatan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di Desa Pelemgadung, Kecamatan Karangmalang, Sragen, Minggu (10/2/2019).

Selama awal 2019 ini, sudah ada tiga warga Sragen yang meninggal dunia karena penyakit DBD. Hingga pekan kedua Februari ini, DKK Sragen sudah mendapat tambahan laporan kasus DBD.

Menurut Hargiyanto, tren laporan kasus DBD yang masuk ke DKK mengalami penurunan. Jika pada Januari rata-rata terdapat 22 laporan kasus DBD/hari, pada Februari menurun di angka belasan. Rencananya pada Senin (11/2/2019), data laporan kasus DBD pada Februari tersebut baru akan direkap dan diverifikasi kembali.

“Jumlah laporan kasus DBD kali ini memang lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. Ini karena faktor pengaruh musim. Bisa juga karena kualitas PSN oleh warga setempat kurang baik. Misal, sudah menguras kamar mandi tapi telur larva jentik-jentik masih menempel di dinding. Kualitas PSN itu yang perlu ditingkatkan lagi,” jelas Hargiyanto.

Gerakan PSN pada Minggu pagi tersebut dipimpin Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Bupati mengakui kegiatan kerja bakti sebetulnya sudah kerap dilakukan warga. Namun, kebanyakan dari kerja bakti tersebut belum fokus pada upaya PSN.

“Sebenarnya jentik-jentik nyamuk itu lebih suka tinggal di air bersih. Bukan di genangan air seperti got. Jadi, kerja bakti harus mau mencari botol atau kaleng bekas di lingkungan sekitar lalu menguburnya. Bukan hanya fokus mencabut rumput dan membersihkan got,” terang Bupati.

Gerakan PSN tersebut digelar di sejumlah desa dan kelurahan di Kecamatan Karangmalang. Melalui pengeras suara, Bupati tidak henti-hentinya mengajak masyarakat untuk menggalakkan PSN dalam rangka menanggulangi penyakit DBD.

“Saya datang untuk menyemangati. Kalau tidak disemangati, saya takut gerakan PSN ini kendor di tengah jalan,” ucap Bupati.

Bupati juga mengingatkan bila nyamuk Aides Aigepty yang menjadi penyebab penyakit DBD bianya menyerang mulai pukul 08.00 WIB hingga 11.00 WIB. Oleh karenanya, dia meminta warga, khususnya balita, untuk tidak tidur di waktu pagi demi menghindari gigitan nyamuk Aides Aigepty.

“Setiap rumah harus ada kader jumantik [juru pemantau jentik]. Saya sudah berterima kasih kepada kader jumantik yang sudah bekerja keras menanggulangi penyakit DBD ini,” ucapnya.