Kerja Bakti Warga Glonggong Boyolali Mengubah Stigma Buruk Kedung Boyo

Anak muda dan warga Desa Glonggong, Nogosari, Boyolali bekerja bakti membersihkan kawasan Kedung Boyo di desa setempat, Minggu (10/2/2019). (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
11 Februari 2019 05:30 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Sejak belasan tahun lalu, kawasan Kedung Boyo di Desa Glonggong, Kecamatan Nogosari, Boyolali identik dengan tempat berstigma negatif. Tempat itu sering menjadi jujugan bagi pasangan yang ingin berpacaran dengan cara-cara di luar norma.

Terletak sekitar tiga kilometer dari jalan raya Nogosari-Kalioso dan jauh dari kawasan permukiman warga membuat tempat ini tidak banyak tersentuh. "Akhirnya orang yang pergi ke Kedung Boyo adalah yang ingin pacaran, mesum, mabuk, dan perbuatan tidak terpuji lain," ungkap seorang warga Nogosari, Giyanti, ketika berbincang dengan Solopos.com, Minggu (10/2/2019).

Kedung Boyo merupakan bendungan sederhana dengan satu pintu. Bendungan yang kabarnya sudah ada sejak zaman Belanda itu tersambung dengan aliran sungai yang penuh bebatuan. Di sana laki-laki berusia paruh baya biasa duduk seharian dengan membawa alat pancing.

Untuk sampai ke kedung ini, selain melewati perkampungan juga melintasi sepetak kebun jati. Jalannya pun tak terlalu lebar, hanya sekitar tiga meter dan biasa digunakan para petani lalu-lalang membawa sekarung padi menaiki sepeda motor.

Di dinding bendungan tampak sejumlah tulisan hasil vandalisme. Tulisan-tulisan itu sebagian merupakan nama sepasang kekasih yang diabadikan.

Serentetan stigma buruk Kedung Boyo itu nyatanya tak menghentikan niat warga setempat untuk menyulap kedung menjadi panggonan yang lebih apik. Dimotori karang taruna dan tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) desa setempat puluhan warga berkumpul untuk bekerja bakti membersihkan kedung.

Mereka memotong rumput dan tanaman yang sudah ada dengan pola tertentu sehingga terlihat lebih rapi. Kedung itu pun diberi pagar bambu yang sebelumnya telah dicat biru dan kuning. Tak lupa tulisan ‘Sugeng Rawuh ing Kedung Boyo’ juga disematkan di jalan masuk menuju kedung.

Wisata Alternatif

Mempercantik lingkungan, puluhan tanaman brokoli hias berwarna hijau kekuningan dan bayam merah ditanam berjajar. Polanya membentuk jalan setapak dengan dua tanaman di posisi berselang-seling. Bambu-bambu lain juga ditata membentuk limas yang diikat dengan tambang. Fungsinya menyediakan tempat swafoto berlatar belakang aliran bendung dan sungai.

Ketua Karang Taruna Desa Glonggong, Muhammad Irfan Rifai, menuturkan sebagai langkah awal dirinya dan anak-anak muda desa ingin mengenalkan Kedung Boyo sebagai tempat wisata desa.

"Bukan wisata yang besar, tapi sebagai alternatif. Minimal warga tahu kalau di Nogosari ada kedung yang tidak kalah dengan wisata lain, seperti Kali Cemoro di Simo atau taman bunga matahari yang belakangan banyak berkembang," kata dia.

Gerakan ini, imbuh Irfan, juga menjadi jalan pembuka agar pemerintah desa mengelola potensi wilayah dengan lebih serius.

Sekretaris Desa (Sekdes) Glonggong yang juga pegiat karang taruna, Mahayu, menyampaikan pemdes berencana membenahi kawasan kedung. Di antaranya dengan membuat pagar permanen dan pengerukan jalan. "Harapannya agar gerakan karang taruna menjadi penggugah kesadaran pengelolaan yang lebih serius," imbuh dia.