Meski Belum Jadi, Waduk Gondang Karanganyar Sudah Bawa Berkah Bagi Warga Sekitar

Menara Pandang Waduk Gondang yang dibangun masyarakat setempat secara swadaya, yang bisa dimanfaatkan wasiatawan untuk menikmati panorama dari ketinggian. - solopos.com / Wahyu Prakoso
11 Februari 2019 08:00 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR — Meski belum selesai dibanguna dan difungsikan, Waduk Gondang di wilayah Kecamatan Kerjo, Karanganyar, sudah membawa berkah bagi warga di sekitarnya.  Warga di Desa Gempolan, tempat waduk itu berlokasi, memanfaatkan potensi wisata dari keberadaan waduk itu dengan membangun dua area swafoto di sekitar proyek. Area ini pun menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Saat solopos.com menyambangi wilayah itu belum lama ini, area swafoto yang berupa menara pandang tersebut terletak di Dusun Ngrandon dan Dusun Semang. Di Ngrandon, wisatawan dapat mengunjungi area swafoto secara gratis. Pengunjung Menara Waduk Gondang hanya diwajibkan membayar parkir senilai Rp2.000 kepada warga yang menyediakan area parkir di halaman rumah. Sedangkan di Gunung Tirah Karang Uluh, Semang, harus membayar Rp5.000 dan membayar parkir Rp2.000. Wisatawan dapat mengambil gambar dengan latar belakang proyek waduk. Kalau lapar atau haus tak perlu khawatir, ada lima lapak pedagang makanan dan minuman di sini.

Salah satu pedagang, Sukarno, mengaku berjualan sejak tiga bulan terakhir. Dia berjualan makanan seperti dari pecel, gorengan, minuman kemasan, dan makanan ringan. Pria 51 tahun ini bisa memperoleh omzet Rp100.000 per hari. Pengunjung datang dari berbagai kota antara lain Wonogiri, Boyolali, Karanganyar, dll. “Yang jualan istri saya, ini membantu saja, karena Sabtu dan Minggu saya libur. Kalau di akhir pekan, ramai pengunjung dari luar kota. Berjualan di sini asyik karena udaranya sejuk dan pemandangannya bagus,” ujarnya.

Salah satu warga Boyolali, Karti, 45, mengaku sering berkunjung karena orang tuanya tinggal di Gempolan. Dia sering mempromosikan tempat tersebut dengan cara membagikan hasil swafoto dan video ke teman-temannya. “Hampir setiap bulan saya ke sini, pernah berombongan bareng teman saya 15 orang dari Boyolali main ke Ngrandon setelah menonton hasil video saya,” ujarnya.

Ketua RW 07 Gempolan, Sumaryono, menjelaskan warga tidak terganggu dengan adanya proyek pembangunan waduk. Desa Gempolan sudah terkenal dengan wisata buah, khususnya durian. Ia berharap dengan adanya pembangunan waduk akan menarik lebih banyak wisatawan dan banyak menyerap tenaga kerja wilayah sekitar.

Sekretaris Desa Gempolan, Marjoko, membenarkan dampak proyek tersebut baik. Masyarakat akan memperolah peningkatan pendapatan dari sektor pertanian, pariwisata, perikanan, dan harga tanah di sekitar juga menjadi meningkat. “Sekarang harga tanah mulai meningkat di angka Rp500.000 hingga Rp1 juta. Dulu rata-rata harga tanah Rp50.000 saja per meter persegi,” katanya kepada solopos.com.