Harga dari Pemasok Naik, Omzet Pedagang Bibit di Karanganyar Turun

Seorang karyawan, Sunarto,50, sedang mencabut rumput di media bibit tanaman, Jumat (8/2 - 2019). Proses pembibitan durian membutuhkan waktu 1,5 tahun. (Solopos/Wahyu Prakoso
11 Februari 2019 01:30 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR-Para pedagang bibit tanaman buah di Karanganyar mengeluhkan omzet penjualan tahun 2019 menurun dibandingkan tahun sebelumnya, Jumat (8/2/2019). Hal ini disebabkan harga bibit dari pemasok naik.

Salah satu pedagang bibit tanaman di Desa Botok, Kerjo, Karanganyar, Giatno, 50, mengatakan tahun ini omzet penjualannya turun. Hal ini karena dia tidak bisa membeli bibit dari petani langsung melainkan dari koperasi di Magelang setiap tiga sampai empat pekan sekali. Untuk biaya transportasi kulakan dia membutuhkan biaya Rp1,5 juta.

“Sekarang sudah enggak bisa beli langsung ke petaninya, susah. Harganya naik dua kali lipat membeli bibit lewat koperasi. Saya tidak bisa ambil untung banyak, sementara para pembeli selalu nawar dengan harga pas. Dan saya tidak sanggup kalau mengembangkan bibit sendiri, Tenaganya kurang. Proses mengembangkan bibit itu lama dan membutuhkan waktu perawatan yang intensif,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di rumahnya.

Warga Mojorejo, Botok ini mengaku, rata-rata omzet yang dikantonginya per hari sekitar Rp100.000. Padahal tahun sebelumnya ia bisa memperoleh hingga Rp300.000/hari. Ia menjual bibit keliling ke pasar-pasar di sekitar Karanganyar hingga Wonogiri. Istrinya membantu berjualan di rumah. Bibit tanaman buah yang dijual beraneka ragam antara lain durian, alpukat, jeruk, petai, kelengkeng, dan lain-lain.

“Jualan bibit tanaman ini sebenarnya musiman, saat musim kemarau hanya ngopeni tanaman. Asal enggak mati, tambah besar [pohonnya] harga jual pohon naik,”katanya.

Selaras dengan Giatno, pedagang lainnya, Hari Widodo, mengaku tahun ini omzetnya menurun karena harga bibit tanaman dari pemasok naik. Bibit tanaman yang ia jual diperoleh dari Purworejo. Di tempat tersebut mulai banyak pengepul.

“Tahun ini saya dapat [omzet] Rp300.000 per hari padahal tahun lalu bisa Rp500.000 per hari. Yang paling banyak dicari bibit alpukat dan kelengkeng. Saya tidak seperti pedagang lain yang keliling. Hanya jualan di rumah, jadi sebagai hiburan saja karena saya masih kerja. Untuk kulakan saya hanya titip orang [pedagang besar]”, ujarnya.

Budidaya

Berbeda dengan Hari, pedagang bibit tanaman di Sumberejo, Markus Dalmo, 63, mengatakan tahun ini omzetnya justru naik dari tahun sebelumnya. Hal tersebut disebabkan bibit tanaman yang ia jual lebih rendah dari pasaran. Ia membudidayakan bibit tanaman buah sejak 1980.
“Omzetnya naik tapi tidak seberapa. Tahun lalu jarang sekali yang beli, tahun ini pasti ada yang beli setiap harinya, Rp100.000 sampai Rp200.000 dapat [per hari],” ujar pensiunan dari Dinas Pertanian Karangnyar tersebut.

Dalmo memaparkan, saat ini memiliki dua karyawan untuk proses pembibitan. Untuk biji buah-buahan, ia membeli dari pedagang buah sekitar rumahnya. Untuk pupuk juga diolah sendiri, diambil dari para peternak setempat.

Berdasarkan pantauan Espos, bibit tanaman buah yang dibudidayakan beragam, di antaranya durian, alpukat, mangga, kelengkeng, rambutan, dan lain-lain. Pembelinya warga dari Karanganyar dan Soloraya. Pembudidayaan tanaman membutuhkan proses yang panjang. Salah satunya buah durian.

Petani durian yang membantu Dalmo, Sunarto, 50, menjelaskan proses pembudidayaan bibit durian membutuhkan empat tahap. Pertama, menyemai dibutuhkan waktu selama 10 hari. Lalu, menunggu biji tumbuh selama dua bulan. Selanjutnya, proses penyetekan selama satu bulan, bibit harus ditutup kantong plastik supaya suhunya terjaga. Terakhir menunggu hasil setekan minimal satu tahun.

“Dari proses ndedher [menanam biji durian] hingga layak jual itu separuhnya yang berhasil,”kata Narto.